Wednesday, April 10, 2013

Keutamaan Orang Kaya

By guru | At 7:43 PM | Label : | 0 Comments


Dari Abu Umamah, “Wahai anak cucu Adam kalau kalian bisa menginfakkan rizki kalian, maka itu akan sangat baik bagi kalian. Akan tetapi kalau kalian menahannya, maka akan sangat buruk bagi kalian. Janganlah mencela orang yang miskin dan mulailah pemberian kalian kepada orang yang miskin. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Muslim)

“Jika kalian punya harta lebih maka bantulah orang yang tidak punya harta. Kalau kalian punya bekal lebih, bagikanlah kepada orang yang tak punya bekal.” (HR. Muslim)

Kelebihan Orang Kaya

By guru | At 7:40 PM | Label : | 0 Comments


“Harta yang berada di tangan seorang Mukmin adalah sebaik-baik harta. Jika dibelanjakan di jalan Allah, sungguh harta itu justru mendatangkan amal kebaikan. Penolong di akhirat kelak.  Dan pahala seperti ini tidak akan teraih oleh mereka yang tidak berharta. Hingga segologan masyarakat berpenghasilan rendah pernah mengadu kepada Rasul, “Ya Rasul, masyarakat yang berpenghasilan tinggi (ekonomi kuat), menggondol pahala sebanyak-banyaknya dari hasil shalatnya seperti kami, puasanya seperti kami, juga dari hasil sedekah harta benda yang melimpah ruah.”  (HR. Muslim)

Kepemilikan Tanah pun Harus Produktif

By guru | At 6:40 PM | Label : | 0 Comments



Hijrah yang dilakukan Rasulullah ke Madinah menjadi awal penataan dalam banyak bidang kehidupan, termasuk bidang ekonomi.  Ini dimungkinkan karena tekanan yang dihadapi Rasulullah tidak sehebat ketika di Mekah. Tegaknya Negara Islam sangat dipengaruhi oleh kemampuan Negara dalam mengumpulkan pendapatan serta mendistribusikannya demi kepentingan masyarakat.

Pada masa-masa awal Nabi di Madinah masalah ini mendapat perhatian khusus. Sumber pendapatan pada masa itu sangat tergantung kepada para kaum Muslim yang secara sukarela menyumbangkan sebagian harta kekayaannya kepada Negara. Terutama untuk membiayai perjuangan kaum Muslimin dalam peperangan yang terjadi. Di sini dapat kita lihat betapa pentingnya bahwa seorang Muslim harus kaya. Karena kekayaan dapat mendukung perjuangan Islam.

Islam sangat menganjurkan produktifitas dari segala kepemilikan yang dikuasai oleh seorang Muslim. Berbeda dengan kebanyakan penduduk Mekah yang berprofesi sebagai pedagang, penduduk Madinah dikenal sebagai masyarakat agraris sebagai petani. Maka produktifitas dari tanah sangat diperhatikan. Kaum Muslimin diperintahkan untuk mengelola semaksimal mungkin tanah yang mereka miliki, termasuk tanah yang belum ada pemiliknya.

Seorang sahabat Nabi, Bilal bin Harits, pernah mendatangi Nabi untuk meminta sebidang tanah yang luas. Nabi memberinya sebagai iqtha’ (pemberian tanah untuk dikelola agar lebih produktif serta mendatangkan keuntungan bagi negara). Namun semasa Khalifah ‘Umar tanah tersebut diminta kembali karena Bilal dianggap gagal mengelolanya. Khalifah ‘Umar menetapkan tiga tahun untuk membuka tanah, jika seseorang tidak mengelolanya maka orang lain berhak menanaminya.

Bukan hanya itu saja, Khalifah ‘Umar juga memerintahkan kepada para Gubernur untuk meningkatkan produktifitas atas tanah yang dapat dikelola, beliau menulis surat kepada salah seorang gubernurnya;
“Perhatikanlah tanah Negara di provinsimu dan bagikanlah tanah itu dengan syarat pembagian setengah dari hasil panen atau kurang, dengan mengurangi bagian Negara hingga sepersepuluh. Namun, jika tanah tersebut terlalu tandus sehingga tak seorang pun mau menanaminya meskipun hanya dengan pembagian sepersepuluh, maka berikanlah tanah itu tanpa syarat. Sekirannya masih tak ada seorang pun yang menanaminya, maka biayailah penanamannya dari Baitulmal sehingga tidak ada tanah yang ada dalam kendalimu sia-sia.”

Penekanan yang begitu besar terhadap tanah pertanian dapat dipahami karena pada masa itu sektor pertanian menjadi salah satu tumpuan  utama masyarakat Islam. Pada konteks sekarang bisa dipahami bahwa seorang Muslim harus mengoptimalkan atau mendayagunakan semua kepemilikannya agar setidaknya bernilai ekonomis demi kepentingan bersama.

“Siapa yang memiliki tanah hendaklah ditanaminya. Jika dia tidak sanggup menanaminya sendiri maka hendaklah disuruhnya saudaranya menanami.” (Mukhtasar Sahih Muslim)

Tuesday, April 9, 2013

Rahasia Agar Mudah Bersyukur

By guru | At 8:01 PM | Label : | 0 Comments


“Pandanglah orang yang di bawahmu dan janganlah memandang kepada yang di atasmu, karena itu akan lebih layak bagimu untuk tidak menghina (meremehkan) kenikmatan Allah untukmu.”
(HR. Muslim)

Seni Menghadapi Kegagalan: Melihat Pintu Lain

By guru | At 6:57 PM | Label : | 0 Comments


“Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” (Nuh [71]: 20)
         
Seorang teman pernah mengirimkan email kepada saya. Isinya antara lain untaian kata yang sangat berkesan: Ketika satu pintu tertutup, acapkali kita hanya terpaku pada satu pintu dan mengabaikan pintu lain. Padahal banyak pintu lain yang masih terbuka.’ Begitulah, kadang dalam menghadapi persoalan rumit dan merasa usaha telah gagal, saya hanya terfokus pada kegagalan itu. Pikiran dan hati terserap untuk meratapi cara yang telah dilakukan tanpa berusaha melihat cara lain yang mungkin akan berhasil. Padahal saya yakin pasti banyak cara lain yang bisa dicoba.

Al Quran secara indah telah mengabadikan usaha keluarga Nabi Yakub yang tanpa putus asa dalam memasuki negeri Mesir untuk mencari Yusuf. “Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (Yusuf [12]: 67)

Paling tidak ayat tersebut telah mengajarkan kepada saya tiga hal penting.
Pertama, kegigihan berusaha yang dilakukan keluarga Nabi Yakub meski berulangkali gagal memasuki Mesir. Kegigihan itu kemudian melahirkan kekreatifan dalam mencari cara baru guna mengatasi kegagalan. Maka Nabi Yakub memerintahkan putera-puteranya masuk dari pintu berbeda.

Kedua, pada ujung sebuah usaha ada batas yang tidak dapat ditembus lagi. Ada situasi yang di sana kegigihan dan langkah kreatif harus berhadapan dengan kekuatan Maha. Itulah takdir. Sesuatu yang telah menjadi ketetapan Allah, dan hanya Allah saja yang dapat mengubahnya. Takdir telah menjadi ketetapan Allah, namun manusia diperintahkan untuk semaksimal mungkin dalam berusaha. Dengan usahanya itu akan mendekatkan kepada apa yang telah ditakdirkan. Percaya kepada takdir merupakan bagian dari Rukun Iman.

Ketiga, saat kesadaran akan takdir telah hadir. Semestinya setiap usaha yang dilakukan senantiasa beriringan dengan tawakkal. Menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan. Ketentuan terbaik menurut perhitungan-Nya. Dengan begitu bila pencapaian tidak sesuai keinginan tidak akan timbul kekecewaan. Allah tidak selalu memberikan apa yang diinginkan manusia tetapi Dia menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Melihat pintu lain adalah langkah mencari peluang-peluang lain. Menemukan cara baru tanpa harus terpaku pada kegagalan masa lalu. Kemampuan untuk keluar dari zona ‘gagal’ yang barangkali menyisakan trauma. Lihatlah keluar, lihatlah jalan-jalan lain. Allah menciptakan jalan-jalan di bumi yang luas.

Bila kita ingin bepergian ke suatu tempat misalnya. Untuk sampai ke tempat tujuan ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Dari segi rute, kita dapat memilih jalan mana yang akan dilalui. Dari segi sarana, kita bisa memilih kendaraan dari sepeda hingga pesawat terbang. Jika kita tidak memiliki kendaraan, Allah telah menganugerahkan kaki untuk melangkah. Atau Allah menghadirkan keluarga dan orang-orang yang bisa mengantarkan. Dari segi waktu, bagi yang takut dengan terik matahari, Allah telah menciptkan malam. Atau sebaliknya.

Allah begitu sempurna menciptakan manusia dan seluruh alam ini. Tidak patut rasanya jika satu kegagalan membuat kita putus asa. Ingatlah bahwa dalam setiap perkara ada peluang untuk mengubahnya menjadi kebaikan. Keberhasilan yang diiringi dengan kesyukuran bisa mendatangkan pahala dan mengundang kenikmatan selanjutnya. Kegagalan yang disertai kesabaran dapat mendatangkan pahala tanpa batas.

Sungguh sangat beruntung orang yang tetap dalam ketaatan. Mereka berusaha tanpa kenal putus asa. Lalu menyandarkan diri kepada Allah.
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (Al Ahzab [33]: 2-3

Menjaga Kualitas dengan Rivalitas

By guru | At 6:39 PM | Label : | 0 Comments



“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah [2]: 148)

Rivalitas (persaingan) telah menjadi sunatullah yang mesti terjadi. Kebutuhan manusia yang tidak sebanding dengan alat pemenuhan yang tersedia menyebabkan masing-masing individu atau kelompok berusaha untuk bisa meraihnya. Persaingan bukanlah sesuatu yang buruk atau merugikan, bila dilakukan sesuai aturan yang jelas, sikap yang sportif serta mental fair play.

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Al-Maidah [5]: 48)

Sebagai konsekuensi dari adanya persaingan itu tidak semua orang memperoleh apa yang diinginkan. Lalu muncul golongan yang disebut pecundang dan pahlawan.  Namun tidak semua yang kalah adalah pecundang dan tidak selamanya mereka yang menang bisa disebut pahlawan. Karena semuanya tergantung bagaimana sikap dan cara yang mereka gunakan dalam bersaing. Jika kemenangan diraih lewat berbagai  kecurangan ia justru lebih pantas dijuluki ‘pecundang sejati’. Sebaliknya seorang yang kalah dan mau mengakui kemenangan lawan secara sportif dan legawa, ia sebenarnya adalah pahlawan, karena mampu mengalahkan ke’aku’annya sendiri. Serta mampu menghargai keunggulan orang lain.

Kemajuan dunia yang begitu pesat saat ini menambah ruang yang luas bagi manusia untuk bersaing dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara global. Jarak ribuan kilometer, batas negara, perbedaan budaya dan semacamnya tidak lagi menjadi penghalang memperebutkan berbagai peluang yang ada. Orang dari Asia bisa bersaing memperebutkan peluang kerja di Eropa atau sebaliknya melalui jaringan internet.

Menumbuhkan kesadaran dan keberanian bersaing sangat berguna bagi kita. Agar tidak minder dan kalah dalam bersaing. Karena hidup tidak lepas dari adanya persaingan. Segi positif dari adanya persaingan, dapat memacu setiap diri untuk berusaha berkembang dan lebih baik lagi. Sehingga manusia dapat hidup dinamis dan mengalami perubahan ke arah yang relatif lebih baik lagi. Dengan adanya persaingan manusia dituntut minimal berusaha agar tidak kalah dengan orang lain. Ini berguna bagi pembangunan dan pengembangan kemampuan diri.

Allah tampaknya memang sengaja menciptakan adanya kompetisi dalam dunia ini. agar dapat dibedakan mana manusia yang benar-benar patuh dan berusaha sungguh-sungguh meniti jalan-Nya dan mana manusia yang dusta dan berjalan seenaknya sendiri. Dari adanya persaingan ini pula lapangan dakwah terbuka dengan lebar sebagai ladang amal. Silakan bersaing di jalan Allah karena yang menang pasti mendapat hadiah dari-Nya.

Hidup tanpa ada persaingan rasanya hambar. Dengan adanya pesaing secara spontan perasaan enggan dikalahkan hadir sehingga kita terpacu untuk lebih baik lagi. Disinilah manfaat dari adanya rivalitas.

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz