“Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di
bumi itu.” (Nuh [71]: 20)
Seorang teman pernah
mengirimkan email kepada saya. Isinya antara lain untaian kata yang sangat
berkesan: Ketika satu pintu tertutup, acapkali kita hanya terpaku pada satu
pintu dan mengabaikan pintu lain. Padahal banyak pintu lain yang masih
terbuka.’ Begitulah, kadang dalam menghadapi persoalan rumit dan merasa usaha
telah gagal, saya hanya terfokus pada kegagalan itu. Pikiran dan hati terserap
untuk meratapi cara yang telah dilakukan tanpa berusaha melihat cara lain yang
mungkin akan berhasil. Padahal saya yakin pasti banyak cara lain yang bisa
dicoba.
Al Quran secara indah
telah mengabadikan usaha keluarga Nabi Yakub yang tanpa putus asa dalam
memasuki negeri Mesir untuk mencari Yusuf. “Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu
(bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang
yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang
sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah
hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja
orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (Yusuf [12]: 67)
Paling tidak ayat
tersebut telah mengajarkan kepada saya tiga hal penting.
Pertama, kegigihan berusaha yang dilakukan keluarga Nabi Yakub meski
berulangkali gagal memasuki Mesir. Kegigihan itu kemudian melahirkan kekreatifan
dalam mencari cara baru guna mengatasi kegagalan. Maka Nabi Yakub memerintahkan
putera-puteranya masuk dari pintu berbeda.
Kedua, pada ujung sebuah usaha ada batas yang tidak dapat ditembus lagi. Ada
situasi yang di sana kegigihan dan langkah kreatif harus berhadapan dengan
kekuatan Maha. Itulah takdir. Sesuatu yang telah menjadi ketetapan Allah, dan
hanya Allah saja yang dapat mengubahnya. Takdir telah menjadi ketetapan Allah,
namun manusia diperintahkan untuk semaksimal mungkin dalam berusaha. Dengan usahanya
itu akan mendekatkan kepada apa yang telah ditakdirkan. Percaya kepada takdir
merupakan bagian dari Rukun Iman.
Ketiga, saat kesadaran akan takdir telah hadir. Semestinya setiap usaha yang
dilakukan senantiasa beriringan dengan tawakkal. Menyerahkan hasilnya kepada
Allah. Karena Allah-lah yang menentukan. Ketentuan terbaik menurut
perhitungan-Nya. Dengan begitu bila pencapaian tidak sesuai keinginan tidak
akan timbul kekecewaan. Allah tidak selalu memberikan apa yang diinginkan
manusia tetapi Dia menyediakan apa yang mereka butuhkan.
Melihat pintu lain
adalah langkah mencari peluang-peluang lain. Menemukan cara baru tanpa harus
terpaku pada kegagalan masa lalu. Kemampuan untuk keluar dari zona ‘gagal’ yang
barangkali menyisakan trauma. Lihatlah keluar, lihatlah jalan-jalan lain. Allah
menciptakan jalan-jalan di bumi yang luas.
Bila kita ingin
bepergian ke suatu tempat misalnya. Untuk sampai ke tempat tujuan ada banyak
cara yang bisa kita lakukan. Dari segi rute, kita dapat memilih jalan mana yang
akan dilalui. Dari segi sarana, kita bisa memilih kendaraan dari sepeda hingga
pesawat terbang. Jika kita tidak memiliki kendaraan, Allah telah
menganugerahkan kaki untuk melangkah. Atau Allah menghadirkan keluarga dan
orang-orang yang bisa mengantarkan. Dari segi waktu, bagi yang takut dengan
terik matahari, Allah telah menciptkan malam. Atau sebaliknya.
Allah begitu sempurna
menciptakan manusia dan seluruh alam ini. Tidak patut rasanya jika satu
kegagalan membuat kita putus asa. Ingatlah bahwa dalam setiap perkara ada
peluang untuk mengubahnya menjadi kebaikan. Keberhasilan yang diiringi dengan
kesyukuran bisa mendatangkan pahala dan mengundang kenikmatan selanjutnya.
Kegagalan yang disertai kesabaran dapat mendatangkan pahala tanpa batas.
Sungguh sangat
beruntung orang yang tetap dalam ketaatan. Mereka berusaha tanpa kenal putus
asa. Lalu menyandarkan diri kepada Allah.
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan
bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (Al Ahzab
[33]: 2-3