Tuesday, April 9, 2013

Seni Menghadapi Kegagalan: Melihat Pintu Lain



“Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” (Nuh [71]: 20)
         
Seorang teman pernah mengirimkan email kepada saya. Isinya antara lain untaian kata yang sangat berkesan: Ketika satu pintu tertutup, acapkali kita hanya terpaku pada satu pintu dan mengabaikan pintu lain. Padahal banyak pintu lain yang masih terbuka.’ Begitulah, kadang dalam menghadapi persoalan rumit dan merasa usaha telah gagal, saya hanya terfokus pada kegagalan itu. Pikiran dan hati terserap untuk meratapi cara yang telah dilakukan tanpa berusaha melihat cara lain yang mungkin akan berhasil. Padahal saya yakin pasti banyak cara lain yang bisa dicoba.

Al Quran secara indah telah mengabadikan usaha keluarga Nabi Yakub yang tanpa putus asa dalam memasuki negeri Mesir untuk mencari Yusuf. “Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” (Yusuf [12]: 67)

Paling tidak ayat tersebut telah mengajarkan kepada saya tiga hal penting.
Pertama, kegigihan berusaha yang dilakukan keluarga Nabi Yakub meski berulangkali gagal memasuki Mesir. Kegigihan itu kemudian melahirkan kekreatifan dalam mencari cara baru guna mengatasi kegagalan. Maka Nabi Yakub memerintahkan putera-puteranya masuk dari pintu berbeda.

Kedua, pada ujung sebuah usaha ada batas yang tidak dapat ditembus lagi. Ada situasi yang di sana kegigihan dan langkah kreatif harus berhadapan dengan kekuatan Maha. Itulah takdir. Sesuatu yang telah menjadi ketetapan Allah, dan hanya Allah saja yang dapat mengubahnya. Takdir telah menjadi ketetapan Allah, namun manusia diperintahkan untuk semaksimal mungkin dalam berusaha. Dengan usahanya itu akan mendekatkan kepada apa yang telah ditakdirkan. Percaya kepada takdir merupakan bagian dari Rukun Iman.

Ketiga, saat kesadaran akan takdir telah hadir. Semestinya setiap usaha yang dilakukan senantiasa beriringan dengan tawakkal. Menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan. Ketentuan terbaik menurut perhitungan-Nya. Dengan begitu bila pencapaian tidak sesuai keinginan tidak akan timbul kekecewaan. Allah tidak selalu memberikan apa yang diinginkan manusia tetapi Dia menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Melihat pintu lain adalah langkah mencari peluang-peluang lain. Menemukan cara baru tanpa harus terpaku pada kegagalan masa lalu. Kemampuan untuk keluar dari zona ‘gagal’ yang barangkali menyisakan trauma. Lihatlah keluar, lihatlah jalan-jalan lain. Allah menciptakan jalan-jalan di bumi yang luas.

Bila kita ingin bepergian ke suatu tempat misalnya. Untuk sampai ke tempat tujuan ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Dari segi rute, kita dapat memilih jalan mana yang akan dilalui. Dari segi sarana, kita bisa memilih kendaraan dari sepeda hingga pesawat terbang. Jika kita tidak memiliki kendaraan, Allah telah menganugerahkan kaki untuk melangkah. Atau Allah menghadirkan keluarga dan orang-orang yang bisa mengantarkan. Dari segi waktu, bagi yang takut dengan terik matahari, Allah telah menciptkan malam. Atau sebaliknya.

Allah begitu sempurna menciptakan manusia dan seluruh alam ini. Tidak patut rasanya jika satu kegagalan membuat kita putus asa. Ingatlah bahwa dalam setiap perkara ada peluang untuk mengubahnya menjadi kebaikan. Keberhasilan yang diiringi dengan kesyukuran bisa mendatangkan pahala dan mengundang kenikmatan selanjutnya. Kegagalan yang disertai kesabaran dapat mendatangkan pahala tanpa batas.

Sungguh sangat beruntung orang yang tetap dalam ketaatan. Mereka berusaha tanpa kenal putus asa. Lalu menyandarkan diri kepada Allah.
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (Al Ahzab [33]: 2-3

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz