Jika
hari ini Anda di Indonesia, mungkinkah esok hari Anda akan berada di Makkah?
“Bisa,” kata seorang santri. Bagaimana penjelasannya? Karena setiap hari Jumat
Kyai-nya konon terbiasa shalat Jumat di Makkah. Padahal ketika waktu shalat
Jumat Indonesia, di Makkah masih waktu subuh! Jadi di manakah sang kyai
sebenarnya shalat jumat? Entahlah.
Kok
jadi ke sana ya. Maksud saya jika hari ini Anda di Indonesia apakah mungkin
esok hari Anda sampai di Makkah, tanpa membeli tiket pesawat, tanpa mengurus
paspor, dan sebagainya. Anda hanya diam saja di rumah dan berharap esok sampai
di Makkah. Lain halnya jika Anda berusaha untuk mengurus segala perbekalan yang
dilakukannya. Kemungkinan besar Anda akan sampai ke Makkah. “Mungkin” karena
kepastian hanya milik Allah. Usaha yang kita lakukan akan mendekatkan ke arah
itu.
“Ketika
kami sedang mengiring jenazah di Baqi’ Ghorqod (sebuah tempat pemakaman di
Madinah), datanglah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghampiri kami.
Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika
itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah
membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu, kemudian beliau
bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa
pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya, di surga ataukah di
neraka, serta apakah ia akan sengsara ataukah bahagia.”
Kemudian
seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya
kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah ditentukan
sebagai orang yang bahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang
yang berbahagia. Dan barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang
sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.”
Kemudian
beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah.
Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka mereka akan
dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang
ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk
melakukan amalan orang-orang sengsara.”
Kemudian
beliau membacakan surat al-Lail ayat 5-10 berikut (yang artinya), “Adapun orang
yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang
mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta
mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan
yang sukar.” Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

0 comments:
Post a Comment