By guru | At 8:25 AM | Label :
Sabda
| 0 Comments
Home » All posts
Wednesday, March 6, 2013
Menghimpun Kekayaan dengan Meniatkan Akhirat
By guru | At 8:00 AM | Label :
Sabda
| 0 Comments
“Barangsiapa yang tujuan utamanya
adalah meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya berada
di dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan
dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa
yang tujuan utamanya adalah meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan
kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang
dimilikinya, dan dunia tidak mau datang sendiri kepadanya, kecuali menurut apa
yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)
Tuesday, March 5, 2013
Cinta Berbuah Manisnya Iman
By guru | At 9:30 PM | Label :
Sabda
| 0 Comments
“Tiga perkara, barangsiapa yang
ada di dalamnya, maka dia akan dapatkan manisnya iman yaitu: Hendaknya Allah
dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, dan hendaknya seorang
mencintai orang lain dimana dia tidak mencinta selain karena Allah, dan hendaknya
dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya
sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)
Pemilik Tangan Kasar yang Beruntung
Ada
yang membedakan hasil kerja seorang mukmin dengan non-mukmin. Jelas sekali hal
itu disebutkan dalam Al Quran.
“Dan amal-amal orang-orang kafir
adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang
yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati apa-apa….”
(An-Nur: 39)
Dalam
ayat lain dikatakan, amalan orang kafir ibarat abu yang dengan mudah
diterbangkan angin. Tanpa sisa.
“Permisalan amalan-amalan
orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin
dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat
mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia.
Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 18)
Maka
sebetulnya seorang mukmin memiliki nilai lebih yang patut untuk menjadi pelecut
agar giat dalam bekerja. Mengoptimalkan segala kemampuan yang ada demi mencapai
hasil kerja yang maksimal. Rasulullah dan para sahabat bisa menjadi cermin
bagaimana mereka bekerja keras mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tidak
menyandarkan pada pemberian orang lain maupun dari baitul maal untuk menghidupi
keluarganya. Kita justru diajarkan untuk berbagi, membelanjakan sebagian rizki
yang dititipkan kepada kita di jalan Allah. Dengan bersedekah.
Bahkan
Rasul pernah mencium tangan seorang sahabat, telapak tangannya terasa kasar
karena bekerja di ladang. Bayangkan seorang Rasul yang mulia bersedia mencium
tangan sahabatnya. Lalu siapakah pemilik telapak tangan kasar yang beruntung
itu?
Ialah
Sa’ad bin Muadz al Anshari.
Tatkala
itu Rasulullah berjumpa Sa’ad bin Muadz dan bersalaman beliau merasakan telapak
tangan Sa’ad yang kasar. Rasulullah bertanya apa sebabnya, Sa’ad menjawab “Saya
membajak tanah untuk keluarga ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu Rasulullah
mencium tangan Sa’ad bin Muadz dan berkata “Tangan ini tak akan disentuh api
neraka”.
Sa’ad
bin Muadz al Anshari, begitu ia dikenal. Lengkapnya, Sa’ad bin Muadz bin
an-Nu’man bin Imri’ al-Qais al-Asyhali al-Anshari radhiyallahu’anhu. Namanya
terkadang tak dimuat dalam buku kumpulan kisah para sahabat. Ia memang tak
setenar Abdurrahman bin ‘Auf saudagar yang dermawan. Juga tak setenar Salman Al
Farisi peracik strategi khandaq dari Persia. Tetapi namanya layak dicatat dan
diingat sebagai teladan bagi siapapun. Ialah pemilik tangan kasar yang dicium
Rasulullah.
Sa’ad
masuk dalam rengkuhan kemuliaan Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah
melalui Ibnu Umair (Mush’ab bin Umair). Keislamannya kian menambah kekuatan
kaum muslimin, karena Sa’ad merupakan salah satu pembesar Suku Aus. Bahkan
dalam sebuah syair dituliskan:
Jika
dua Sa’ad masuk Islam maka Muhammad di Mekah
tidak
takut terhadap perbuatan orang yang menyelisihi.
(dua Sa’ad yang dimaksud yakni Sa’ad
bin Ubâdah, pembesar suku Khazraj dan Sa’ad bin Muadz pembesar suku Aus).
Perjalanan
hidup Sa’ad menyajikan episode-episode mengesankan yang layak diteladani. Baik
ketika belum masuk Islam maupun sesudah masuk Islam. Ketika Mush’ab bin Umair
datang ke Madinah sebagai duta yang menyebarkan agama Islam, Sa’ad tidak
menyukai hal itu. Ia memerintahkan salah seorang sahabatnya, Usaid bin Hudhair
untuk menghentikan dakwah Mush’ab.
Tetapi
yang terjadi Usaid justru tertarik dan masuk Islam. Usaid kemudian menemui
Sa’ad dan mengajaknya bertemu dengan Mush’ab. Dibuatlah satu perjanjian,
Mush’ab akan menyampaikan ajaran Islam kepada Sa’ad, jika Sa’ad tidak
menerimanya maka Mush’ab akan menghentikan dakwahnya. Mush’ab kemudian
menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Al Quran dari permulaan surat
Az-Zukhruf.
Mendengar
penjelasan Mush’ab, Sa’ad mendapat hidayah dari Allah, kemudian mensucikan diri
dan mengucapkan syahadat. Tidak cukup sampai di situ. Ia lantas menemui kaumnya
seraya menyeru,
“Semua
dari kalian, baik laki-laki maupun wanita, dilarang berbicara denganku sebelum
kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Diriwayatkan belum sampai petang
hari, semua kaum Aus telah menjadi muslim dan muslimah.
Episode
yang tidak kalah pentingnya ialah ketika Sa’ad menjadi tameng hidup bagi
Rasulullah dalam perang Uhud. Saat pasukan Islam kocar-kacir karena tergoda
harta rampasan perang. Kemudian Sa’ad juga berjasa dalam perang Badar. Dengan
tegas ia bersama kaumnya dari kalangan Anshar memberi dukungan penuh kepada
kaum Muslimin. Pada perang Khandaq, Sa’ad dan kaumnya bersama kaum muslimin
dengan gigih mempertahankan Madinah dari serbuan kaum Quraisy Makkah. Pada
perang ini selain mendapat serangan dari kaum Quraisy kaum muslimin juga
dikhianati oleh kaum Yahudi Bani Quraidzah yang sebelumnya telah mengikat
perjanjian untuk tidak saling menyerang.
Dalam
usaha mempertahankan Madinah ini, Sa’ad terkena lemparan anak panah Hibban bin
Qais Al-Araqah hingga menyisakan luka. Selama sakit, Rasulullah memerintahkan
agar Sa’ad dirawat didekat beliau sehingga lebih mudah memantau kondisi Sa’ad.
Setelah kekalahan kaum Quraisy dalam perang Khandaq, pasukan muslim kemudian
mengepung Bani Quraidzah yang telah berkhianat. Butuh kurang lebih 25 hari
untuk memaksa Bani Quraidzah menyerah.
Sa’ad
disepakati untuk memutuskan hukuman atas orang-orang yang berkhianat itu.
Dengan tegas Sa’ad memberikan keputusan, semua lelaki dewasa dihukum mati,
anak-anak dan wanita menjadi tawanan perang. Tentang keputusan Sa’ad ini
Rasulullah menegaskan, “Sesungguhnya engkau telah menghukumi dengan apa yang
ada di atas langit.”
Usai
perang Khandaq, kondisi Sa’ad kian memburuk. Luka-luka yang dialami membuat
kesehatannya terganggu. Beberapa kali ia dijenguk Rasulullah, sampai akhirnya
Sa’ad menemui kesyahidannya. Mendengar kabar kematian Sa’ad Rasulullah
bersabda, “Sungguh kematian Sa’ad telah membuat ‘Arsy Allah terguncang.”
Itulah
kisah kehidupan Sa’ad bin Muadz, yang tangannya pernah dicium Rasulullah.
Menunjukkan betapa Islam sangat menghargai orang yang bekerja keras. Dalam
sabda Rasulullah yang lain juga disebutkan. Kelelahan badan orang yang bekerja
dianggap sebagai tebusan untuk menggugurkan dosa-dosa.
“Barang siapa yg merasa lelah di
sore hari karena mencari rizki dgn tangannya, maka akan diampuni dosa dosanya.”
(HR Tabrani)
Tulisan ini pernah dimuat Majalah
Bakti
Lelaki dari Langit
“Saya
mendengar Rasulullah Saw., bersabda, ‘Riya’ (pamer) sekalipun kecil merupakan
syirik. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang takwa dan tidak
dikenal, kendati mereka tiada, mereka tetap tidak kehilangan dan sekalipun
mereka ada, mereka tetap tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita petunjuk,
mereka selamat dari debu yang gelap dan pekat.” (HR. Thabrani dan Hakim)
Abu
al Faraj Ibnul Jauzi, menukilkan sebuah kisah penuh makna tentang seorang
pemuda bernama Uwais al Qarni. Ia hidup sezaman dengan Rasulullah namun tidak
sempat bertemu.
Pemuda
dari negeri Yaman ini tak dikenal banyak orang, hidup dalam kemiskinan dan banyak
orang yang menghinanya. Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua dan buta,
sehingga kebutuhan sehari-harinya harus dicukupi Uwais. Hal ini pulalah yang
menyebabkan Uwais hanya bisa memendam kerinduan untuk bertemu dengan
Rasulullah, apalagi ketika orang-orang datang dari Madinah dan menceritakan
pertemuan mereka dengan Rasulullah. Kerinduan Uwais semakin memuncak.
Suatu
kali Uwais menguatkan hati meminta ijin kepada ibunya untuk berangkat ke
Madinah menemui Rasulullah. Alangkah senangnya hati Uwais karena ternyata
ibunya memberi ijin, tetapi ia dipesan agar lekas kembali lagi. Setelah
menyiapkan semua perbekalan untuk ibunya, Uwais kemudian memohon diri dan
berangkat ke Madinah.
Sesampainya
di Madinah dengan penuh semangat dan rasa bahagia, ia menuju rumah Rasulullah
dan mengatakan ingin bertemu Rasulullah. Tapi sayang ia tidak bisa bertemu
karena saat itu Rasulullah dan kaum Muslimin sedang berada di medan perang.
Betapa sedih hati Uwais, ia ingin menunggu hingga Rasulullah kembali tetapi ia
kemudian teringat pesan ibunya, agar ia lekas pulang. Karena ketaatan kepada
ibunya tersebut, Uwais akhirnya kembali ke Yaman, dan meredam keinginan hatinya
untuk bertemu Rasulullah. Ia melangkah pulang dengan perasaan haru.
Saat
Rasulullah kembali dari medan perang, beliau langsung menanyakan perihal orang
yang mencarinya. Seorang yang taat kepada ibunya, penghuni langit dan banyak
dikenal di langit.
‘Aisyah
menyampaikan bahwa ada seorang lelaki yang ingin bertemu Rasulullah tetapi
kemudian segera pulang ke Yaman karena tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu
lama. Rasulullah kemudian bersabda, seraya memandang ‘Umar dan ‘Ali, “Suatu
ketika, jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan dimintakan ampun, dia
adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”
Selang
beberapa lama, ‘Umar dan ‘Ali mencari Uwais dan melaksanakan apa yang
disabdakan Rasulullah tersebut. Uwais kemudian berkata kepada ‘Umar dan ‘Ali,
“Hamba meminta supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari
selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Pada
saat meninggal, banyak orang yang tidak dikenal oleh penduduk Yaman mengantar
dan mengiringi jenazah Uwais, sehingga penduduk Yaman menjadi terheran-heran.
Agaknya mereka itu adalah malaikat yang diturunkan ke bumi. Barulah penduduk
Yaman menyadari siapa Uwais al Qarni. Dialah hamba yang tidak dikenal di bumi,
tetapi sangat terkenal di langit.
Subhanallah!
Kisah Uwais di atas semestinya membuat kita merasa kecil dan tak berarti.
Betapa kita dengan amal-amal yang masih terbatas, dengan kebaikan yang tidak
seberapa, lebih menginginkan untuk dikenal banyak orang sebagai ahli ibadah.
Ingin mendapatkan sanjung puji dari sesama manusia dan mendapat gelar orang
yang shaleh. Padahal Allah memerintahkan kita untuk beribadah semata untuk
mengharap ridha-Nya, dan adalah Allah Dzat yang lebih pantas untuk diharapkan
balasannya.
Pernah
dimuat di Majalah BAKTI
Monday, March 4, 2013
Menunda Pun Berguna
Ini
kisah tentang Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah sekaligus khalifah kedua
menggantikan Abu Bakar memimpin daulah Islamiyah. Kekuasaannya tidak diragukan
lagi. Jika pun ia menginginkan kekayaan dan segala kenikmatan duniawi dengan
mudah akan segera terpenuhi. Tapi bukan demikian sifat Umar.
Suatu
ketika Umar melihat Jabir bin Abdullah membawa daging.
Umar
bertanya, “Apakah ini hai Jabir?”
Jabir
menjawab, “Ini daging yang saya beli
karena saya menginginkannya.”
Umar
kemudian berkata, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli? Tidakkah
sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada
tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah,
“Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah
bersenang-senang dengannya.”
“Dan (ingatlah) hari (ketika)
orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu
telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu
telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab
yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak
dan karena kamu telah fasik." (Al Ahqaaf [46]: 20)
Menunda
untuk menikmati setiap keinginan diri menjadikan hidup lebih tenteram. Dan
manusia bisa bersabar menghadapi godaan duniawi. Karena bila diturutkan
keinginan manusia tidak akan ada habisnya. Kecuali dengan datangnya ajal.
Seperti disampaikan Rasulullah, meskipun mempunyai dua lembah emas manusia tidak
akan pernah puas.
Pada
sisi lain, perintah mengekang keinginan merasakan setiap kenikmatan duniawi
bisa mengajarkan arti kesabaran bila kenikmatan itu lolos dari genggaman
tangan. Agar manusia tidak larut dalam kesedihan ketika kenikmatan dunia tidak
dapat diraih. Karena Allah menyediakannya di akhirat kelak.
Seorang
mukmin tidak boleh silau dengan berbagai kenikmatan dan kemajuan yang diperoleh
orang kafir dari hasil perniagaannya. Tidak boleh minder apalagi menjadi rendah
diri. Karena sebagai mukmin punya kebanggaan sendiri, kemuliaan hidup di jalan
Allah. Itulah nikmat yang tidak akan terbeli dengan harga berapapun.
Ketika
kenikmatan dunia tak sempat teraih dalam genggaman, tidak perlu bersedih.
Jika
kita bersabar untuk kehidupan di dunia ini, maka kelak akan mendapatkan
kenikmatan tiada bandingnya. Hingga seorang yang paling menderita di dunia ini,
ketika diberi kesempatan sebentar saja untuk merasakan kenikmatan akhirat, dia
telah mengganggap seolah tidak pernah menderita di dunia.
Rasulullah menjelaskan, dari Anas
bin Malik, Rasulullah bersabda, “Penduduk dunia yang paling banyak merasakan
kenikmatan yang menjadi salah seorang penghuni neraka, didatangkan pada hari
kiamat, lalu dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan, kemudian
dikatakan, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau melihat kebaikan sedikitpun? Apakah
ada kenikmatan yang merasukimu sedikitpun?’ Anak Adam itu menjawab, ‘Tidak,
demi Allah wahai Rabbku.’ Lalu orang yang paling menderita di dunia yang
merupakan salah seorang dari penghuni surga didatangkan, lalu dicelupkan ke
dalam surga dengan sekali celupan, lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam,
apakah engkau melihat penderitaan sedikit pun? Apakah ada kesulitan yang
merasukimu sedikit pun? Maka dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku,
tidak ada penderitaan yang merasukiku sedikit pun dan tidak pula kulihat
kesulitan sedikit pun.’” (HR. Muslim)
Tundalah,
karena menunda itu pun berguna. Menunda untuk menghabiskan setiap kesenangan
dunia. Tundalah, menunda yang sesaat untuk yang selamanya.
Kisah Raja Tanpa Istana
By guru | At 5:16 AM | Label :
Inspirasi
| 0 Comments
Suatu
ketika utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ia mencari
istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk ia menanyakan di mana letak istana
khalifah.
“Ia
tidak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di
mana bentengnya?”
“Ia
tidak memiliki benteng.”
Penduduk
menunjukkan tempat tinggal sang Khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk
lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga.
Bahkan utusan itu semakin terkejut, saat mengetahui khalifah sedang
beristirahat di bawah pohon!
Khalifah
‘Umar bin Khattab, seorang Amirul Mukminin, pemimpin kaum Muslimin yang
kekuasaannya terbentang dari Irak sampai Mesir.
Ada
radiasi kesederhaan yang membekas dalam diri Khalifah. Radiasi yang dipancarkan
langsung dari pribadi Agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar
pernah menangis saat melihat ada bekas guratan pelepah kurma di punggung
Rasulullah.
“Apa
yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai
Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka
bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah.” jawab ‘Umar.
Dengan
bijak Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka
mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”
Allah
Ta'ala berfirman lagi: "Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang
sekarang, maka Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang
yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke
dalamnya dalam keadaan tercela dan dihalaukan." (al-Isra': 18)
Dari
Urwah dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya Aisyah pernah berkata:
"Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit,
kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga
bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah
keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api."
Saya
-yakni Urwah- berkata: "Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda
sekalian?" Aisyah radhiallahu 'anha menjawab: "Dua benda hitam, yaitu
kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga
dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (unta atau
kambing yang diambili susunya), lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada
Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita." (Muttafaq
'alaih)
Kesederhaan
tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhaan lebih mewakili sikap
menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata
untuk memuaskan keinginan di dunia melainkan untuk negeri yang lebih kekal,
akhirat. Kesederhanaan bukan menjadi wujud penghindaran dari kekayaan dunia
dengan berlindung kemalasan. Sederhana untuk dirinya namun tidak pelit
memberikan harta untuk berinfak di jalan Allah.
Subscribe to:
Posts (Atom)







