Monday, March 4, 2013

Kisah Raja Tanpa Istana



Suatu ketika utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ia mencari istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk ia menanyakan di mana letak istana khalifah.
“Ia tidak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di mana bentengnya?”
“Ia tidak memiliki benteng.”

Penduduk menunjukkan tempat tinggal sang Khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga. Bahkan utusan itu semakin terkejut, saat mengetahui khalifah sedang beristirahat di bawah pohon!


Khalifah ‘Umar bin Khattab, seorang Amirul Mukminin, pemimpin kaum Muslimin yang kekuasaannya terbentang dari Irak sampai Mesir.
Ada radiasi kesederhaan yang membekas dalam diri Khalifah. Radiasi yang dipancarkan langsung dari pribadi Agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar pernah menangis saat melihat ada bekas guratan pelepah kurma di punggung Rasulullah.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah.” jawab ‘Umar.
Dengan bijak Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang sekarang, maka Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke dalamnya dalam keadaan tercela dan dihalaukan." (al-Isra': 18)

Dari Urwah dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya Aisyah pernah berkata: "Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api."

Saya -yakni Urwah- berkata: "Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda sekalian?" Aisyah radhiallahu 'anha menjawab: "Dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (unta atau kambing yang diambili susunya), lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita." (Muttafaq 'alaih)

Kesederhaan tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhaan lebih mewakili sikap menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata untuk memuaskan keinginan di dunia melainkan untuk negeri yang lebih kekal, akhirat. Kesederhanaan bukan menjadi wujud penghindaran dari kekayaan dunia dengan berlindung kemalasan. Sederhana untuk dirinya namun tidak pelit memberikan harta untuk berinfak di jalan Allah.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz