Suatu
ketika utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ia mencari
istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk ia menanyakan di mana letak istana
khalifah.
“Ia
tidak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di
mana bentengnya?”
“Ia
tidak memiliki benteng.”
Penduduk
menunjukkan tempat tinggal sang Khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk
lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga.
Bahkan utusan itu semakin terkejut, saat mengetahui khalifah sedang
beristirahat di bawah pohon!
Khalifah
‘Umar bin Khattab, seorang Amirul Mukminin, pemimpin kaum Muslimin yang
kekuasaannya terbentang dari Irak sampai Mesir.
Ada
radiasi kesederhaan yang membekas dalam diri Khalifah. Radiasi yang dipancarkan
langsung dari pribadi Agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar
pernah menangis saat melihat ada bekas guratan pelepah kurma di punggung
Rasulullah.
“Apa
yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai
Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka
bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah.” jawab ‘Umar.
Dengan
bijak Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka
mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”
Allah
Ta'ala berfirman lagi: "Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang
sekarang, maka Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang
yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke
dalamnya dalam keadaan tercela dan dihalaukan." (al-Isra': 18)
Dari
Urwah dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya Aisyah pernah berkata:
"Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit,
kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga
bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah
keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api."
Saya
-yakni Urwah- berkata: "Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda
sekalian?" Aisyah radhiallahu 'anha menjawab: "Dua benda hitam, yaitu
kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga
dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (unta atau
kambing yang diambili susunya), lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada
Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita." (Muttafaq
'alaih)
Kesederhaan
tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhaan lebih mewakili sikap
menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata
untuk memuaskan keinginan di dunia melainkan untuk negeri yang lebih kekal,
akhirat. Kesederhanaan bukan menjadi wujud penghindaran dari kekayaan dunia
dengan berlindung kemalasan. Sederhana untuk dirinya namun tidak pelit
memberikan harta untuk berinfak di jalan Allah.

0 comments:
Post a Comment