Tuesday, March 12, 2013

Manusia Memiliki Kemampuan?

By guru | At 11:39 AM | Label : | 0 Comments

Siapapun punya peluang jadi pemenang. Kesempatan mengubah nasib menjadi lebih baik. Kemenangan berada di antara takdir dan perjuangan. Takdir memang ada dan tak bisa dibantah, tapi setiap orang diperintahkan untuk berusaha.
“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” Ash-Shafat ayat 61.

Dalam pepatah Arab dikenal satu semboyan yang sangat sering kita dengar, Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam berusaha ia akan mendapatkan hasil.
Takdir menjadi salah satu persoalan yang tidak mudah dipahami. Pemahaman yang keliru justru akan menjadi belenggu yang melemahkan. Padahal takdir menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter seorang Muslim. Karena takdir menjadi salah satu bagian dari rukun iman. Di sinilah perlunya kita melihat dan memahami takdir secara benar agar mampu menumbuhkan sikap-sikap positif sebagai bagian mengubah nasib.

Dalam Islam, takdir biasa dikenal dengan qadha dan qadar. Qadha berarti keputusan dan qadar berarti ukuran. Pemaknaan yang keliru akan takdir ini konon menjadi salah satu sebab kemunduran Islam. Bahkan ada golongan yang beranggapan manusia tidak memiliki kemampuan. Semua telah ditetapkan Allah dan manusia hanya pasrah menerima. Segala aktivitas disandarkan pada ketetapan Allah hingga menumbuhkan kemalasan dalam berusaha.

Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Thalib pernah juga ditegur Rasulullah. Suatu malam Rasul mengunjungi rumah Ali, yang juga menantunya. Ali sudah tidur waktu itu padahal hari belum terlalu malam.
Nabi pun berkata, “Alangkah baiknya kalau sebagian waktu malammu digunakan untuk shalat sunat.”
“Ya Rasulullah, diri kita semua ini berada dalam genggaman kekuasaanNya. Jika Dia menghendaki, tentu dilimpahkan rahmatNya kepada kita, dan jika Dia tidak menghendaki tentu ditarik kembali rahmat itu,” jawab Ali
Mendengar jawaban itu Rasul pun berpaling dan mengatakan, “Sungguh manusia itu amat banyak membantah.”

Ketidaksetujuan Rasul terhadap jawaban Ali, dapat dimaknai kita tidak boleh hanya bergantung pada kehendak Allah tanpa disertai usaha. Sebab Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berikhtiar.

Adanya takdir adalah untuk diimani bukan dijadikan alasan. Takdir tidak boleh dijadikan alasan sebagai penyebab seseorang menjadi bodoh, miskin, malas dan semacamnya.
Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menyatakan, takdir hanya boleh diimani dan tidak boleh dijadikan hujah. Barangsiapa berhujah dengan takdir, hujahnya tertolak. Siapa yang beruzur dengan takdir, uzurnya tak bisa diterima. Allah telah menetapkan suatu hukum sebab akibat. Seandainya Allah menyediakan kebaikan tetapi kita tidak mengambilnya, tentu tidak akan kita dapatkan.

Misal, sudah menjadi takdir bila kita menanam biji padi maka akan tumbuh padi. Jika kita menginginkan memanen padi, maka yang kita tanam adalah biji padi, bukan jagung atau lainnya. Di sinilah kedudukan usaha yang kita lakukan.
Lebih lanjut Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan perlunya manusia berusaha.
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu.” (At-Thaghabun [64]: 16). Dalam ayat lain, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengerjakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali ‘Imran [3]: 97)
Manusia punya peluang untuk melakukan kebaikan atau meninggalkan keburukan. Melakukan keburukan lalu menyandarkan kepada takdir hanya menjadi ciri orang musyrik.

“Dan berkatalah orang-orang musyrik: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya." Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nahl [16]: 35)

Sebagian ulama berpendapat perkara itu ada dua:
-        Pertama, perkara yang dapat diupayakan. Maka jangan lemah menghadapinya. Misalkan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang positif.
-        Kedua, perkara yang tidak dapat diupayakan. Seperti musibah atau datangnya ajal kematian.

Anda dan saya tidak pernah tahu di depan sana mungkin saja terbentang kesuksesan. Tentu itu semua tidak datang dengan sendirinya sementara kita berpangku tangan. Bangkitlah siapa tahu Anda dan saya sebetulnya ditakdirkan menjadi orang yang super sukses

Manakah Takdirmu?

By guru | At 11:13 AM | Label : | 0 Comments


Jika hari ini Anda di Indonesia, mungkinkah esok hari Anda akan berada di Makkah? “Bisa,” kata seorang santri. Bagaimana penjelasannya? Karena setiap hari Jumat Kyai-nya konon terbiasa shalat Jumat di Makkah. Padahal ketika waktu shalat Jumat Indonesia, di Makkah masih waktu subuh! Jadi di manakah sang kyai sebenarnya shalat jumat? Entahlah.

Kok jadi ke sana ya. Maksud saya jika hari ini Anda di Indonesia apakah mungkin esok hari Anda sampai di Makkah, tanpa membeli tiket pesawat, tanpa mengurus paspor, dan sebagainya. Anda hanya diam saja di rumah dan berharap esok sampai di Makkah. Lain halnya jika Anda berusaha untuk mengurus segala perbekalan yang dilakukannya. Kemungkinan besar Anda akan sampai ke Makkah. “Mungkin” karena kepastian hanya milik Allah. Usaha yang kita lakukan akan mendekatkan ke arah itu.

“Ketika kami sedang mengiring jenazah di Baqi’ Ghorqod (sebuah tempat pemakaman di Madinah), datanglah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu, kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya, di surga ataukah di neraka, serta apakah ia akan sengsara ataukah bahagia.”

Kemudian seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.”

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.”

Kemudian beliau membacakan surat al-Lail ayat 5-10 berikut (yang artinya), “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Thursday, March 7, 2013

Dosa yang Menghalangi Rizki

By guru | At 2:34 PM | Label : | 0 Comments


“Takutlah berbuat zina, karena dalam zina ada empat hal (yang membahayakan), yaitu, dapat menghilangkan cahaya wajah, dapat memutuskan rizki, murka Allah, dan kepastian kekal di neraka.” (HR. Thabrani)

Menjauhi Dosa-dosa Kecil

By guru | At 2:05 PM | Label : | 0 Comments



“Jauhilah dosa-dosa yang kalian anggap remeh, karena ia akan terkumpul kepada seorang laki-laki dan membinasakannya. Beliau memberikan perumpamaan seperti kaum yang singgah di sebuah tempat, pemimpin kaum itu meminta agar dinyalakan kayu bakar. Setiap orang membawa satu dahan kayu sehingga terkumpul tumpukan kayu yang sangat banyak. Akhirnya mereka mampu menyalakan api besar dan melahap apa saja yang mereka lemparkan ke dalamnya.” (HR. Ahmad dari Ibnu Mas’ud)

Wednesday, March 6, 2013

Belajar Mencintai Al Quran

By guru | At 10:40 PM | Label : , | 0 Comments

Al Quran menjadi kitab petunjuk bagi manusia. Berguna ketika di dunia dan bermanfaat kelak di akhirat. Semua ayat Al Quran memiliki keunggulan dan fadhilah masing-masing. Sebagian dari keunggulan itu disebutkan dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.


1.       Surat Al Fatihah
Surat Al Fatihah sering pula disebut Fatkhul Kitaab (pembuka kitab), Ummul Kitab (induk Al Quran) dan Sab’al Matsany (tujuh yang diulang-ulang) karena Al Fatihah setiap hari dibaca dalam  setiap rakaat dalam shalat. Paling tidak 17 kali dalam sehari semalam.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Sa’id bin Mu’ally, “Aku akan mengajarimu sebuah surat, yaitu surat yang paling agung di dalam Al Quran. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin adalah sab ‘al matsany dan Al Qur’an al azhim yang disampaikanNya.” (HR. Bukhari)

Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku akan memberi kabar gembira tentang dua cahaya yang dianugerahkan kepadamu, namun tidak diberikan kepada nabi sebelummu, (yaitu) Pembuka Kitab (Al Fatihah) dan penutup surat Al Baqarah (ayat 284-286). Kamu tidak membaca satu huruf dari keduanya kecuali Allah memberikan kepadamu dua cahaya.” (HR. Muslim)

Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketika surat Al Fatihah turun, pintu langit dibuka. Pintu itu tidak pernah dibuka sebelumnya, kecuali pada saat itu. Kemudian ada malaikat turun lewat pintu itu, padahal ia tidak pernah turun ke bumi sekalipun, kecuali pada hari itu.” (HR. Muslim)

2.       Surat Al Baqarah merupakan surat terpanjang dalam Al Quran dan menempati urutan kedua dalam mushaf.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa membaca surat Al Baqarah di rumahnya pada malam hari, setan tidak akan memasuki rumah itu selama tiga malam.” (HR. Muslim)

3.       Ayat Kursi, atau surat Al Baqarah ayat 255, sebagian ahli tafsir (mufasir) mengartikan Kursi sebagai ilmu Allah, sebagian lainnya menafsirkannya sebagai kekuasaan Allah.
Abu Hurairah ra. Menceritakan, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan kepadaku untuk menjaga zakat ramadhan (zakat fitrah). Kemudian datang seorang yang menuang makanan, maka aku menangkapnya dan berkata, ‘Demi Allah, aku akan benar-benar akan menyampaikan masalah ini kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam’
Dia menjawab, ‘Sungguh aku lagi butuh, aku punya keluarga dan keperluan yang mendesak’
Abu Hurairah ra. Berkata, ‘Karena itu aku meninggalkannya’
Pagi harinya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tahananmu semalam?’
‘Ya Rasulullah, dia mengadukan kebutuhannya yang sangat dengan keluarganya. Karena itu aku kasihan kepadanya, maka aku tinggalkan dia.’
‘Sungguh dia berbohong kepadamu. Dia akan kembali lagi.’”
Dan benar apa yang dikatakan Rasulullah, pendatang itu datang lagi untuk kedua kali dan ketiga kali.
Lalu pendatang itupun berkata kepada Abu Hurairah, “Biarkan aku mengajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang karenanya Allah memberi manfaat kepadamu.”
“Jika engkau hendak istirahat di tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi. Maka dengan ayat Kursi itu Allah akan menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.”
Abu Hurairah pun lantas mengabarkan hal itu kepada Rasulullah, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya dia benar, walaupun dia adalah pembohong. Abau Hurairah, apakah kamu tahu siapa yang kamu ajak bicara selama tiga malam itu?”
“Tidak”
“Itulah syaitan,” jawab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
Demikian sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari.

4.       Penutup surat Al Baqarah.
Dalam riwayat Ahmad disebutkan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa beliau diberi anugerah surat Al Baqarah ayat 284-286 sebagai gudang (penyimpan harta) di bawah ‘arsy. (HR. Ahmad)
Sedangkan dalam riwayat Bukhari disebutkan, orang yang membaca dua ayat terakhir Al Baqarah, seperti membaca penuh surat Al Baqarah

5.       Surat Ali ‘Imran
Rasulullah menyebutkan, surat Al Baqarah dan Ali ‘Imran akan datang pada hari kiamat laksanan dua awan yang meneduhi orang yang membacanya. Demikian disebutkan dalam riwayat Muslim

6.       Surat Al Kahfi
Dari Abu Darda’, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, “Barangsiapa memelihara (menghafal) 10 ayat dari awal surat Al Kahfi, maka dia dijaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)

7.       Surat Al Mulk
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Di dalam Al Quran terdapat sebuag surat yang mempunyai 30 ayat yang memberi syafaat kepada seseorang, bahkan memintakan ampun untuknya, yaitu surat Al Mulk.” (HR. Ashabussunan)

8.       Surat Al Ikhlas
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai diriku, sesungguhnya surat Al Ikhlas seimbang (senilai) dengan sepertiga Al Quran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjemput Rizki di Pagi Hari

By guru | At 9:30 PM | Label : | 0 Comments


Saat fajar mulai terbit di ufuk timur. Kumandang Adzan memecah keheningan. Segera tunaikan shalat shubuh. Lalu bekerjalah. Tidak ada alasan bermalas-malasan. Tidak ada alasan menunaikan shalat sunnah. Pada waktu-waktu ini bahkan dilarang mengerjakan shalat hingga datang waktu dhuha. Pagi hari merupakan waktu yang penuh berkah. Nabi biasanya memperbanyak dzikir setelah shalat subuh hingga menunaikan shalat dhuha. Lalu melanjutkan aktifitas yang lain.


Pagi hari merupakan waktu yang penuh keberkahan rizki.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad menerangkan, tidur di waktu pagi menjauhkan rizki, karena pada waktu itu seluruh makhluk mencari rizkinya. Sebab waktu tersebut adalah waktu pembagian rizki, maka tidur pada waktu tersebut dilarang karena sangat berbahaya kecuali bagi orang terpaksa atau memiliki udzur yang dibenarkan. Suatu hari Abdullah bin Abbas melihat anaknya sedang tidur pagi, maka dia berkata, ‘Bangunlah! Apakah kamu tidur pada waktu disebarkannya rizki?’

Rasulullah secara khusus pernah berdo’a, “Ya Allah berkahilah umatku di saat pagi hari.”  HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Sakhr Al-Ghamidi. Sakhr juga mengatakan Nabi jika mengutus utusan khususnya atau pasukannya, beliau mengutus pada pagi hari. Sakhr sendiri adalah seorang pedagang sukses. Dia biasa mengirmkan barang dagangannya pada pagi hari. Maka jangan tidur di waktu pagi.

Selain itu saat pagi hari berguna bagi kesehatan, di antaranya;
Kadar gas 03 (ozon) di udara saat pagi hari sangat tinggi, lalu berkurang sedikit demi sedikit dan hilang saat matahari terbit. Gas ini bermanfaat penting untuk organ syaraf dan pembangkit energi kerja, baik pikiran maupun fisik.

Kadar sinar ultraviolet  lebih tinggi di pagi hari. Sinar ini berfungsi merangsang kulit untuk menghasilkan vitamin D begitu juga inframerah sangat besar pengaruhyna di saat bangun pagi. Kadar kortison di dalam darah sangat tinggi di pagi hari dan kadar itu sangat rendah di sore hari. Selain itu pada pagi hari konsentrasi kita lebih optimal sehingga akan mampu bekerja efektif.

Kiat Mensyukuri Nikmat

By guru | At 8:25 AM | Label : | 0 Comments


“Lihatlah engkau terhadap orang yang lebih rendah (miskin) dari padamu, dan janganlah kamu melihat orang yang lebih tinggi (kaya) dari padamu, karena yang demikian akan lebih tepat bagimu agar tidak meremehkan nikmat yang telah diberikan Allah kepadamu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Menghimpun Kekayaan dengan Meniatkan Akhirat

By guru | At 8:00 AM | Label : | 0 Comments


“Barangsiapa yang tujuan utamanya adalah meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya berada di dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya adalah meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak mau datang sendiri kepadanya, kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

Tuesday, March 5, 2013

Cinta Berbuah Manisnya Iman

By guru | At 9:30 PM | Label : | 0 Comments


“Tiga perkara, barangsiapa yang ada di dalamnya, maka dia akan dapatkan manisnya iman yaitu: Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, dan hendaknya seorang mencintai orang lain dimana dia tidak mencinta selain karena Allah, dan hendaknya dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Pemilik Tangan Kasar yang Beruntung

By guru | At 5:21 PM | Label : , | 0 Comments

Ada yang membedakan hasil kerja seorang mukmin dengan non-mukmin. Jelas sekali hal itu disebutkan dalam Al Quran.
“Dan amal-amal orang-orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati apa-apa….” (An-Nur: 39)


Dalam ayat lain dikatakan, amalan orang kafir ibarat abu yang dengan mudah diterbangkan angin. Tanpa sisa.
“Permisalan amalan-amalan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 18)

Maka sebetulnya seorang mukmin memiliki nilai lebih yang patut untuk menjadi pelecut agar giat dalam bekerja. Mengoptimalkan segala kemampuan yang ada demi mencapai hasil kerja yang maksimal. Rasulullah dan para sahabat bisa menjadi cermin bagaimana mereka bekerja keras mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tidak menyandarkan pada pemberian orang lain maupun dari baitul maal untuk menghidupi keluarganya. Kita justru diajarkan untuk berbagi, membelanjakan sebagian rizki yang dititipkan kepada kita di jalan Allah. Dengan bersedekah.

Bahkan Rasul pernah mencium tangan seorang sahabat, telapak tangannya terasa kasar karena bekerja di ladang. Bayangkan seorang Rasul yang mulia bersedia mencium tangan sahabatnya. Lalu siapakah pemilik telapak tangan kasar yang beruntung itu?
Ialah Sa’ad bin Muadz al Anshari.

Tatkala itu Rasulullah berjumpa Sa’ad bin Muadz dan bersalaman beliau merasakan telapak tangan Sa’ad yang kasar. Rasulullah bertanya apa sebabnya, Sa’ad menjawab “Saya membajak tanah untuk keluarga ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu Rasulullah mencium tangan Sa’ad bin Muadz dan berkata “Tangan ini tak akan disentuh api neraka”.

Sa’ad bin Muadz al Anshari, begitu ia dikenal. Lengkapnya, Sa’ad bin Muadz bin an-Nu’man bin Imri’ al-Qais al-Asyhali al-Anshari radhiyallahu’anhu. Namanya terkadang tak dimuat dalam buku kumpulan kisah para sahabat. Ia memang tak setenar Abdurrahman bin ‘Auf saudagar yang dermawan. Juga tak setenar Salman Al Farisi peracik strategi khandaq dari Persia. Tetapi namanya layak dicatat dan diingat sebagai teladan bagi siapapun. Ialah pemilik tangan kasar yang dicium Rasulullah.

Sa’ad masuk dalam rengkuhan kemuliaan Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah melalui Ibnu Umair (Mush’ab bin Umair). Keislamannya kian menambah kekuatan kaum muslimin, karena Sa’ad merupakan salah satu pembesar Suku Aus. Bahkan dalam sebuah syair dituliskan:
Jika dua Sa’ad masuk Islam maka Muhammad di Mekah
tidak takut terhadap perbuatan orang yang menyelisihi.
(dua Sa’ad yang dimaksud yakni Sa’ad bin Ubâdah, pembesar suku Khazraj dan Sa’ad bin Muadz pembesar suku Aus).

Perjalanan hidup Sa’ad menyajikan episode-episode mengesankan yang layak diteladani. Baik ketika belum masuk Islam maupun sesudah masuk Islam. Ketika Mush’ab bin Umair datang ke Madinah sebagai duta yang menyebarkan agama Islam, Sa’ad tidak menyukai hal itu. Ia memerintahkan salah seorang sahabatnya, Usaid bin Hudhair untuk menghentikan dakwah Mush’ab.

Tetapi yang terjadi Usaid justru tertarik dan masuk Islam. Usaid kemudian menemui Sa’ad dan mengajaknya bertemu dengan Mush’ab. Dibuatlah satu perjanjian, Mush’ab akan menyampaikan ajaran Islam kepada Sa’ad, jika Sa’ad tidak menerimanya maka Mush’ab akan menghentikan dakwahnya. Mush’ab kemudian menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Al Quran dari permulaan surat Az-Zukhruf.

Mendengar penjelasan Mush’ab, Sa’ad mendapat hidayah dari Allah, kemudian mensucikan diri dan mengucapkan syahadat. Tidak cukup sampai di situ. Ia lantas menemui kaumnya seraya menyeru,
“Semua dari kalian, baik laki-laki maupun wanita, dilarang berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Diriwayatkan belum sampai petang hari, semua kaum Aus telah menjadi muslim dan muslimah.

Episode yang tidak kalah pentingnya ialah ketika Sa’ad menjadi tameng hidup bagi Rasulullah dalam perang Uhud. Saat pasukan Islam kocar-kacir karena tergoda harta rampasan perang. Kemudian Sa’ad juga berjasa dalam perang Badar. Dengan tegas ia bersama kaumnya dari kalangan Anshar memberi dukungan penuh kepada kaum Muslimin. Pada perang Khandaq, Sa’ad dan kaumnya bersama kaum muslimin dengan gigih mempertahankan Madinah dari serbuan kaum Quraisy Makkah. Pada perang ini selain mendapat serangan dari kaum Quraisy kaum muslimin juga dikhianati oleh kaum Yahudi Bani Quraidzah yang sebelumnya telah mengikat perjanjian untuk tidak saling menyerang.

Dalam usaha mempertahankan Madinah ini, Sa’ad terkena lemparan anak panah Hibban bin Qais Al-Araqah hingga menyisakan luka. Selama sakit, Rasulullah memerintahkan agar Sa’ad dirawat didekat beliau sehingga lebih mudah memantau kondisi Sa’ad. Setelah kekalahan kaum Quraisy dalam perang Khandaq, pasukan muslim kemudian mengepung Bani Quraidzah yang telah berkhianat. Butuh kurang lebih 25 hari untuk memaksa Bani Quraidzah menyerah.

Sa’ad disepakati untuk memutuskan hukuman atas orang-orang yang berkhianat itu. Dengan tegas Sa’ad memberikan keputusan, semua lelaki dewasa dihukum mati, anak-anak dan wanita menjadi tawanan perang. Tentang keputusan Sa’ad ini Rasulullah menegaskan, “Sesungguhnya engkau telah menghukumi dengan apa yang ada di atas langit.”

Usai perang Khandaq, kondisi Sa’ad kian memburuk. Luka-luka yang dialami membuat kesehatannya terganggu. Beberapa kali ia dijenguk Rasulullah, sampai akhirnya Sa’ad menemui kesyahidannya. Mendengar kabar kematian Sa’ad Rasulullah bersabda, “Sungguh kematian Sa’ad telah membuat ‘Arsy Allah terguncang.”

Itulah kisah kehidupan Sa’ad bin Muadz, yang tangannya pernah dicium Rasulullah. Menunjukkan betapa Islam sangat menghargai orang yang bekerja keras. Dalam sabda Rasulullah yang lain juga disebutkan. Kelelahan badan orang yang bekerja dianggap sebagai tebusan untuk menggugurkan dosa-dosa.
“Barang siapa yg merasa lelah di sore hari karena mencari rizki dgn tangannya, maka akan diampuni dosa dosanya.” (HR Tabrani)

Tulisan ini pernah dimuat Majalah Bakti

Lelaki dari Langit

By guru | At 10:59 AM | Label : , | 0 Comments


“Saya mendengar Rasulullah Saw., bersabda, ‘Riya’ (pamer) sekalipun kecil merupakan syirik. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang takwa dan tidak dikenal, kendati mereka tiada, mereka tetap tidak kehilangan dan sekalipun mereka ada, mereka tetap tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita petunjuk, mereka selamat dari debu yang gelap dan pekat.” (HR. Thabrani dan Hakim)

Abu al Faraj Ibnul Jauzi, menukilkan sebuah kisah penuh makna tentang seorang pemuda bernama Uwais al Qarni. Ia hidup sezaman dengan Rasulullah namun tidak sempat bertemu.


Pemuda dari negeri Yaman ini tak dikenal banyak orang, hidup dalam kemiskinan dan banyak orang yang menghinanya. Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua dan buta, sehingga kebutuhan sehari-harinya harus dicukupi Uwais. Hal ini pulalah yang menyebabkan Uwais hanya bisa memendam kerinduan untuk bertemu dengan Rasulullah, apalagi ketika orang-orang datang dari Madinah dan menceritakan pertemuan mereka dengan Rasulullah. Kerinduan Uwais semakin memuncak.

Suatu kali Uwais menguatkan hati meminta ijin kepada ibunya untuk berangkat ke Madinah menemui Rasulullah. Alangkah senangnya hati Uwais karena ternyata ibunya memberi ijin, tetapi ia dipesan agar lekas kembali lagi. Setelah menyiapkan semua perbekalan untuk ibunya, Uwais kemudian memohon diri dan berangkat ke Madinah.

Sesampainya di Madinah dengan penuh semangat dan rasa bahagia, ia menuju rumah Rasulullah dan mengatakan ingin bertemu Rasulullah. Tapi sayang ia tidak bisa bertemu karena saat itu Rasulullah dan kaum Muslimin sedang berada di medan perang. Betapa sedih hati Uwais, ia ingin menunggu hingga Rasulullah kembali tetapi ia kemudian teringat pesan ibunya, agar ia lekas pulang. Karena ketaatan kepada ibunya tersebut, Uwais akhirnya kembali ke Yaman, dan meredam keinginan hatinya untuk bertemu Rasulullah. Ia melangkah pulang dengan perasaan haru.

Saat Rasulullah kembali dari medan perang, beliau langsung menanyakan perihal orang yang mencarinya. Seorang yang taat kepada ibunya, penghuni langit dan banyak dikenal di langit.

‘Aisyah menyampaikan bahwa ada seorang lelaki yang ingin bertemu Rasulullah tetapi kemudian segera pulang ke Yaman karena tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rasulullah kemudian bersabda, seraya memandang ‘Umar dan ‘Ali, “Suatu ketika, jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan dimintakan ampun, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”

Selang beberapa lama, ‘Umar dan ‘Ali mencari Uwais dan melaksanakan apa yang disabdakan Rasulullah tersebut. Uwais kemudian berkata kepada ‘Umar dan ‘Ali, “Hamba meminta supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Pada saat meninggal, banyak orang yang tidak dikenal oleh penduduk Yaman mengantar dan mengiringi jenazah Uwais, sehingga penduduk Yaman menjadi terheran-heran. Agaknya mereka itu adalah malaikat yang diturunkan ke bumi. Barulah penduduk Yaman menyadari siapa Uwais al Qarni. Dialah hamba yang tidak dikenal di bumi, tetapi sangat terkenal di langit.

Subhanallah! Kisah Uwais di atas semestinya membuat kita merasa kecil dan tak berarti. Betapa kita dengan amal-amal yang masih terbatas, dengan kebaikan yang tidak seberapa, lebih menginginkan untuk dikenal banyak orang sebagai ahli ibadah. Ingin mendapatkan sanjung puji dari sesama manusia dan mendapat gelar orang yang shaleh. Padahal Allah memerintahkan kita untuk beribadah semata untuk mengharap ridha-Nya, dan adalah Allah Dzat yang lebih pantas untuk diharapkan balasannya.
Pernah dimuat di Majalah BAKTI

Monday, March 4, 2013

Menunda Pun Berguna

By guru | At 7:59 PM | Label : , | 0 Comments

Ini kisah tentang Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah sekaligus khalifah kedua menggantikan Abu Bakar memimpin daulah Islamiyah. Kekuasaannya tidak diragukan lagi. Jika pun ia menginginkan kekayaan dan segala kenikmatan duniawi dengan mudah akan segera terpenuhi. Tapi bukan demikian sifat Umar.


Suatu ketika Umar melihat Jabir bin Abdullah membawa daging.
Umar bertanya, “Apakah ini hai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini daging yang saya beli karena saya menginginkannya.”
Umar kemudian berkata, “Apakah semua yang kamu inginkan kamu beli? Tidakkah sebaiknya kamu mengosongkan sebagian perut kamu untuk memberikan makanan kepada tetanggamu dan keponakanmu. Tidakkah kamu perhatikan firman Allah, “Kesenanganmu telah kamu habiskan dalam kehidupanmu di dunia dan kamu telah bersenang-senang dengannya.”

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik." (Al Ahqaaf [46]: 20)

Menunda untuk menikmati setiap keinginan diri menjadikan hidup lebih tenteram. Dan manusia bisa bersabar menghadapi godaan duniawi. Karena bila diturutkan keinginan manusia tidak akan ada habisnya. Kecuali dengan datangnya ajal. Seperti disampaikan Rasulullah, meskipun mempunyai dua lembah emas manusia tidak akan pernah puas.

Pada sisi lain, perintah mengekang keinginan merasakan setiap kenikmatan duniawi bisa mengajarkan arti kesabaran bila kenikmatan itu lolos dari genggaman tangan. Agar manusia tidak larut dalam kesedihan ketika kenikmatan dunia tidak dapat diraih. Karena Allah menyediakannya di akhirat kelak.

Seorang mukmin tidak boleh silau dengan berbagai kenikmatan dan kemajuan yang diperoleh orang kafir dari hasil perniagaannya. Tidak boleh minder apalagi menjadi rendah diri. Karena sebagai mukmin punya kebanggaan sendiri, kemuliaan hidup di jalan Allah. Itulah nikmat yang tidak akan terbeli dengan harga berapapun.

Ketika kenikmatan dunia tak sempat teraih dalam genggaman, tidak perlu bersedih.
Jika kita bersabar untuk kehidupan di dunia ini, maka kelak akan mendapatkan kenikmatan tiada bandingnya. Hingga seorang yang paling menderita di dunia ini, ketika diberi kesempatan sebentar saja untuk merasakan kenikmatan akhirat, dia telah mengganggap seolah tidak pernah menderita di dunia.
Rasulullah menjelaskan, dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Penduduk dunia yang paling banyak merasakan kenikmatan yang menjadi salah seorang penghuni neraka, didatangkan pada hari kiamat, lalu dicelupkan ke dalam neraka dengan sekali celupan, kemudian dikatakan, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau melihat kebaikan sedikitpun? Apakah ada kenikmatan yang merasukimu sedikitpun?’ Anak Adam itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku.’ Lalu orang yang paling menderita di dunia yang merupakan salah seorang dari penghuni surga didatangkan, lalu dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan, lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau melihat penderitaan sedikit pun? Apakah ada kesulitan yang merasukimu sedikit pun? Maka dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, tidak ada penderitaan yang merasukiku sedikit pun dan tidak pula kulihat kesulitan sedikit pun.’” (HR. Muslim)

Tundalah, karena menunda itu pun berguna. Menunda untuk menghabiskan setiap kesenangan dunia. Tundalah, menunda yang sesaat untuk yang selamanya.

Kisah Raja Tanpa Istana

By guru | At 5:16 AM | Label : | 0 Comments


Suatu ketika utusan Romawi ingin bertemu Khalifah ‘Umar bin Khattab. Ia mencari istana, kediaman khalifah. Kepada penduduk ia menanyakan di mana letak istana khalifah.
“Ia tidak memiliki istana,” jawab mereka.
“Di mana bentengnya?”
“Ia tidak memiliki benteng.”

Penduduk menunjukkan tempat tinggal sang Khalifah yang tak berbeda dengan rumah penduduk lainnya. Tak ada pagar yang tinggi mengelilingi. Tak ada pasukan yang menjaga. Bahkan utusan itu semakin terkejut, saat mengetahui khalifah sedang beristirahat di bawah pohon!


Khalifah ‘Umar bin Khattab, seorang Amirul Mukminin, pemimpin kaum Muslimin yang kekuasaannya terbentang dari Irak sampai Mesir.
Ada radiasi kesederhaan yang membekas dalam diri Khalifah. Radiasi yang dipancarkan langsung dari pribadi Agung, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar pernah menangis saat melihat ada bekas guratan pelepah kurma di punggung Rasulullah.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, sungguh Raja Kisra dan Kaisar Romawi dalam keadaan kafir, mereka bergelimang harta, sedang engkau adalah utusan Allah.” jawab ‘Umar.
Dengan bijak Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Umar, tidaklah engkau ridha jika mereka mendapat dunia dan bagi kita akhirat?”

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang sekarang, maka Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke dalamnya dalam keadaan tercela dan dihalaukan." (al-Isra': 18)

Dari Urwah dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya Aisyah pernah berkata: "Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api."

Saya -yakni Urwah- berkata: "Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda sekalian?" Aisyah radhiallahu 'anha menjawab: "Dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (unta atau kambing yang diambili susunya), lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita." (Muttafaq 'alaih)

Kesederhaan tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Kesederhaan lebih mewakili sikap menjaga diri dari berlebih-lebihan. Karena orientasi hidup bukanlah semata untuk memuaskan keinginan di dunia melainkan untuk negeri yang lebih kekal, akhirat. Kesederhanaan bukan menjadi wujud penghindaran dari kekayaan dunia dengan berlindung kemalasan. Sederhana untuk dirinya namun tidak pelit memberikan harta untuk berinfak di jalan Allah.

Mukmin yang Menakjubkan

By guru | At 4:28 AM | Label : | 0 Comments

Semoga Allah memasukan kita ke dalam golongan orang Mukmin. Golongan yang bukan saja mempercayai keberadaan Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Namun juga tunduk dan patuh terhadap aturan yang telah ditetapkan-Nya. Karena rasa percaya akan keberadaan Allah saja belumlah cukup. Iblis sangat percaya kepada Allah karena pernah berdialog, tetapi tetap saja Iblis termasuk golongan kafir sebab dengan lancang telah membantah perintah Allah

Semoga Allah senantiasa menanamkan keimanan ke dalam hati kita. Karena hanya dengan kemurahan-Nya keimanan itu tetap bersemayam. Keimanan yang tidak bisa diwariskan dan tidak pula dapat diperjual-belikan.


Mukmin adalah orang yang beruntung. Setiap urusan dalam hidupnya menjadi hal menakjubkan. Dan bisa menjadi ladang untuk mendulang pahala. Selalu ada kebaikan dalam segala hal yang menimpa. Rasulullah pernah menginformasikan hal ini dalam sabdanya, “Aku mengagumi seorang Mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang Mukmin diberi pahala dalam segala hal walau pun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Allah telah menciptakan semua urusan menurut ukuran yang terbaik. Setiap kejadian yang menimpa manusia memiliki makna dan manfaat. Hanya saja mungkin akal manusia tidak sanggup untuk menjangkaunya. Allah mengetahui apa yang dibutuhkan setiap hamba-Nya meskipun hamba tersebut tidak menyukainya.

Terkadang seorang hamba menginginkan sesuatu yang itu buruk untuk dirinya. Dan dia kecewa saat keinginan itu tidak terkabulkan. Padahal bila dikabulkan bisa jadi justru membawa kemudharatan.

Kisah Nabi Musa dan Qarun layaknya menjadi pelajaran. Suatu saat Qarun meminta kepada Nabi Musa untuk mendoakan dirinya kepada Allah agar diberi kekayaan. Nabi Musa menasihatkan bahawa apa yang dimiliki Qarun saat itu adalah lebih baik baginya. Tetapi Qarun tidak juga mau mengerti. Akhirnya Nabi Musa mendoakan Qarun dan doa itu pun terkabul. Qarun menjadi orang yang kaya raya. Tapi sungguh malang sebab semakin bertumpuk kekayaan, Qarun semakin jauh dari Allah. Puncaknya Qarun menyombongkan diri dan mengingkari nikmat Allah, “Karun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’” (Al Qashash [28]: 78)

Dan kekufuran Qarun itu pun berakhir tragis saat Allah menurunkan azab-Nya. Qarun dibenamkan ke dalam tanah beserta seluruh harta kekayaannya.

Maka seorang Mukmin adalah mereka yang mampu memanfaatkan setiap kejadian dalam hidupnya menjadi jalan meraih kebaikan. Menerima apa yang telah ditetapkan Allah dengan hati yang ridha dan jiwa yang tegar. Karena akan ada selalu kebaikan di balik setiap kejadian. Jika ditimpa kegagalan dan kesedihan maka kesabaran adalah jalan menuju pertolongan-Nya. sabar dan shalat adalah sarana meraih pertolongan-Nya. Jika kenikmatan terhampar di hadapan, maka kesyukuran akan mengundang nikmat-nikmat selanjutnya. Barangsiapa bersyukur, Allah akan menambahkan nikmat-Nya.

Sungguh urusan Mukmin adalah menakjubkan!

Luar Biasanya Potensi Manusia

By guru | At 4:09 AM | Label : | 0 Comments


Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dianugerahi potensi yang tidak dimiliki makhluk lain. Malaikat sekalipun! Potensi itu beruapa:
§  Rasio/Pikiran
Rasio berbeda dengan akal. Rasio lebih mendasarkan pada kenyataan yang dapat ditangkap dengan indera. Misalnya kekuasaan Allah yang ada di alam ini. Rasio diperlukan manusia agar dapat mengenal Allag melalui tanda-tanda kekuasaanNya.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah), bagi kaum yang memikirkan.” (Ar Ra’d [13] ayat 3)

§  Akal (Al Aqlu)
Akal merupakan perpaduan antara unsur rasio dengan hati. Meskipun manusia mengetahui kekuasaan Allah yang ada di alam ini tetapi banyak di antara mereka yang tetap ingkar karena hatinya tidak berfungsi. Padahal akal dibutuhkan untuk memahami Al Quran.
“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasannya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Ibrahim [14]: 52)

§  Hati/Al Qalbu
Hati berfungsi untuk membedakan perbuatan yang baik dan buruk sebelum anggota badan melakukannya. Sifatnya selalu berubah, kadang beriman kadang berpaling. Maka hati harus selalu dijaga. Dibersihkan dari kotoran dan penyakit yang bisa merusak hati.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d [13] ayat 28)

§  Nafsu
Ini yang membedakan manusia dengan malaikat. Ini yang membuat kehidupan menjadi dinamis. Ya, manusia memiliki nafsu yang mendorong manusia punya keinginan-keinginan. Tetapi nafsu bagai pisau bermata dua, dapat menuntun kepada kebaikan atau sebaliknya. Maka nafsu harus ditata, diredam, dan diarahkan.
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Yusuf [12]: 53)

Dengan segala potensi itulah, manusia dipercaya menjadi khalifah di muka bumi. Diberi amanat yang teramat berat. Amanat yang gunung saja tidak mampu menanggungnya!

Sunday, March 3, 2013

Keajaiban di Balik Perintah Iqra’

By guru | At 9:14 PM | Label : | 0 Comments


Apakah ada kaitannya membaca dengan mengubah nasib? Anda bisa saja menyangkalnya. Tapi saya berharap tulisan ini akan memberi warna dalam pandangan Anda.

Bulan Ramadhan tanggal 17, tiga 13 tahun sebelum Hijrah. Atau sekitar tahun 610 Masehi. Perintah pertama turun kepada Nabi akhir zaman, Iqra’. Bacalah! Perintah yang tak lazim dan membingungkan. Peristiwa itu diabadikan dalam surat Al ‘Alaq. Di saat dunia Arab terkungkung dalam kegelapan budaya di satu sisi. Sementara pada sisi lain mereka sedang berada pada puncak kehebatan sastra.

Maka kota Makkah pun menjadi gempar, kala seorang Muhammad yang ummi tiba-tiba datang dengan kalimat-kalimatnya yang begitu menggetarkan, Al Quran. Sampai-sampai para ahli sastra pun dengan jujur mengakui keunggulan Al Quran.

Al Mughirah yang mengetahui itu kemudian bertemu Abu Jahal dan mendiskusikan tentang julukan apa yang akan diberikan kepada Muhammad. Mulai dari tukang sihir, dukun atau orang yang dianggap gila. Meskipun mereka kemudian sadar, semua itu tak pantas untuk Muhammad. Mereka pun akhirnya sepakat mengatakan Muhammad sebagai seorang ahli sihir yang memisahkan antara orang tua dengan anaknya. Memisahkan antara istri dengan suaminya.

Iqra’... Iqra’... Kita sangat berharap getar suara Jibril sewaktu menemui Rasulullah di Gua Hira itu tak pernah sirna. Terus meresapi setiap jiwa kaum Muslim untuk senantiasa membaca kalam Allah yang termaktub dalam Al Quran maupun yang terhampar di alam semesta. Kita sangat berharap lantunan perintah Iqra’ itu menjadi amunisi yang siap membangkitkan semangat kepada seluruh umat untuk tiada henti belajar demi kemanfaatan dunia dan akhirat.

Ya, kalimat Iqra’ itu semoga tetap menggema sepanjang masa. Memotivasi untuk terus mereguk kesegaran ilmu. Karena dengannya hidup menjadi mudah. Mudah untuk dihadapi, mudah untuk dijalani. Dengan ilmu dunia bisa didapat, akhirat bisa selamat. Setan pun sangat hati-hati menghadapi orang yang berilmu.

Seperti kata Imam Syafi’i rahimahullah, siapa yang ingin meraih bahagia dunia mesti dengan ilmu. Siapa yang ingin meraih bahagia akhirat mesti dengan ilmu.
“Barangsiapa menginginkan dunia, hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya maka hendaklah dengan ilmu.” (Al Majmu’, Imam Nawawi)

Membaca akan membuka banyak kemungkinan. Mengayakan pikir dengan inspirasi. Menutrisi jiwa dengan motivasi. Lihat saja bagaimana tingkat kesadaran membaca di negara yang maju, mereka begitu gigih. Harusnya itu kita!

©http://bukanturunankedelapan.com
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz