Saturday, March 2, 2013

Kerja Keras, Cerdas dan Ikhlas


Ada yang membedakan hasil kerja seorang Mukmin dengan orang non-mukmin. Jelas sekali hal itu disebutkan dalam Al Quran.
“Dan amal-amal orang-orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati apa-apa….” (An-Nur: 39)

Dalam ayat lain dikatakan, amalan orang kafir ibarat abu yang dengan mudah diterbangkan angin. Tanpa sisa.
“Permisalan amalan-amalan orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim: 18)

Maka sebetulnya seorang Mukmin memiliki nilai lebih yang patut untuk menjadi pelecut agar lebih giat dalam bekerja. Mengoptimalkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Rasulullah dan para sahabat bisa menjadi cermin bagaimana mereka bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka tidak menyandarkan pada pemberian orang lain maupun dari baitul maal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan Rasul pernah mencium tangan seorang sahabat. Siapakah pemilik telapak tangan kasar yang beruntung itu? Ialah Sa’ad bin Muadz al Anshari.

Tatkala itu Rasulullah berjumpa Saad bin Mu’az dan bersalaman beliau merasakan telapak tangan Mu’az yang kasar. Rasulullah bertanya apa sebabnya, Mu’az menjawab “Saya membajak tanah untuk keluarga ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu Rasulullah mencium tangan Mu’az dan berkata “Tangan ini tak akan disentuh api neraka”.

Sebuah pernghargaan yang pantas bagi orang yang bekerja keras juga disebutkan dalam sabda Rasulullah yang lain. Hingga kelelahan badan dianggap sebagai tebusan untuk menggugurkan dosa-dosa.
“Barang siapa yg merasa lelah di sore hari karena mencari rizki dgn tangannya, maka akan diampuni dosa dosanya.” (HR Tabrani)

Selain kerja keras, Islam juga mengajarkan pentingnya kerja cerdas. Bekerja menggunakan keahlian sesuai proporsinya. Kerja cerdas mengarah kepada kompetensi diri dan juga bagaimana kita bekerja. Ini butuh ilmu dan berlatih. Maka setiap muslim dianjurkan untuk tak jemu mencari ilmu agar bisa menjalani kehidupannya lebih mudah dan terarah. Derajat para pemilik ilmu dan keahlian diangkat lebih tinggi ketimbang yang tak berilmu.
“Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11)

Tetapi yang terpenting dari semua itu. Seorang Muslim dalam bekerja bermuara mengharapkan ridha Allah. Bekerja dengan ikhlas. Inilah pembeda yang nyata antara orang yang beriman dengan yang bukan. Ini pula yang akan menjadikan nilai kerja seorang muslim tidak saja bernilai duniawi tetapi juga bernilai akhirat. Ada dua balasan yang bisa diharapkan.
“Janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah Jahannam dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” [Ali ‘Imran: 196-197]

Tanpa keikhlasan kerja keras yang dilakukan bisa jadi tak berguna. Seperti golongan yang disebut dalam Al Quran.
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan.” [Al Ghasyiyah: 2-3]

Sudah sepatutnya seorang muslim bekerja penuh semangat. Bekerja dengan keras, cerdas dan penuh rasa ikhlas.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz