Tuesday, March 12, 2013

Manusia Memiliki Kemampuan?


Siapapun punya peluang jadi pemenang. Kesempatan mengubah nasib menjadi lebih baik. Kemenangan berada di antara takdir dan perjuangan. Takdir memang ada dan tak bisa dibantah, tapi setiap orang diperintahkan untuk berusaha.
“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja” Ash-Shafat ayat 61.

Dalam pepatah Arab dikenal satu semboyan yang sangat sering kita dengar, Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh dalam berusaha ia akan mendapatkan hasil.
Takdir menjadi salah satu persoalan yang tidak mudah dipahami. Pemahaman yang keliru justru akan menjadi belenggu yang melemahkan. Padahal takdir menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter seorang Muslim. Karena takdir menjadi salah satu bagian dari rukun iman. Di sinilah perlunya kita melihat dan memahami takdir secara benar agar mampu menumbuhkan sikap-sikap positif sebagai bagian mengubah nasib.

Dalam Islam, takdir biasa dikenal dengan qadha dan qadar. Qadha berarti keputusan dan qadar berarti ukuran. Pemaknaan yang keliru akan takdir ini konon menjadi salah satu sebab kemunduran Islam. Bahkan ada golongan yang beranggapan manusia tidak memiliki kemampuan. Semua telah ditetapkan Allah dan manusia hanya pasrah menerima. Segala aktivitas disandarkan pada ketetapan Allah hingga menumbuhkan kemalasan dalam berusaha.

Dalam satu riwayat, Ali bin Abi Thalib pernah juga ditegur Rasulullah. Suatu malam Rasul mengunjungi rumah Ali, yang juga menantunya. Ali sudah tidur waktu itu padahal hari belum terlalu malam.
Nabi pun berkata, “Alangkah baiknya kalau sebagian waktu malammu digunakan untuk shalat sunat.”
“Ya Rasulullah, diri kita semua ini berada dalam genggaman kekuasaanNya. Jika Dia menghendaki, tentu dilimpahkan rahmatNya kepada kita, dan jika Dia tidak menghendaki tentu ditarik kembali rahmat itu,” jawab Ali
Mendengar jawaban itu Rasul pun berpaling dan mengatakan, “Sungguh manusia itu amat banyak membantah.”

Ketidaksetujuan Rasul terhadap jawaban Ali, dapat dimaknai kita tidak boleh hanya bergantung pada kehendak Allah tanpa disertai usaha. Sebab Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berikhtiar.

Adanya takdir adalah untuk diimani bukan dijadikan alasan. Takdir tidak boleh dijadikan alasan sebagai penyebab seseorang menjadi bodoh, miskin, malas dan semacamnya.
Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah menyatakan, takdir hanya boleh diimani dan tidak boleh dijadikan hujah. Barangsiapa berhujah dengan takdir, hujahnya tertolak. Siapa yang beruzur dengan takdir, uzurnya tak bisa diterima. Allah telah menetapkan suatu hukum sebab akibat. Seandainya Allah menyediakan kebaikan tetapi kita tidak mengambilnya, tentu tidak akan kita dapatkan.

Misal, sudah menjadi takdir bila kita menanam biji padi maka akan tumbuh padi. Jika kita menginginkan memanen padi, maka yang kita tanam adalah biji padi, bukan jagung atau lainnya. Di sinilah kedudukan usaha yang kita lakukan.
Lebih lanjut Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan perlunya manusia berusaha.
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu.” (At-Thaghabun [64]: 16). Dalam ayat lain, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengerjakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali ‘Imran [3]: 97)
Manusia punya peluang untuk melakukan kebaikan atau meninggalkan keburukan. Melakukan keburukan lalu menyandarkan kepada takdir hanya menjadi ciri orang musyrik.

“Dan berkatalah orang-orang musyrik: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya." Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An Nahl [16]: 35)

Sebagian ulama berpendapat perkara itu ada dua:
-        Pertama, perkara yang dapat diupayakan. Maka jangan lemah menghadapinya. Misalkan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang positif.
-        Kedua, perkara yang tidak dapat diupayakan. Seperti musibah atau datangnya ajal kematian.

Anda dan saya tidak pernah tahu di depan sana mungkin saja terbentang kesuksesan. Tentu itu semua tidak datang dengan sendirinya sementara kita berpangku tangan. Bangkitlah siapa tahu Anda dan saya sebetulnya ditakdirkan menjadi orang yang super sukses

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz