Dalam fisika dikenal istilah resonansi, yakni
bergetarnya suatu benda akibat getaran benda lain dengan frekuensi yang sama
atau kelipatan bulat dari frekuensi itu. Sehingga untuk menggetarkan suatu
benda kita tidak harus menyentuhnya secara langsung, melainkan dengan
menggetarkan benda lain. Dengan demikian kita bisa menggetarkan beberapa benda
sekaligus dalam satu tempo apabila benda-benda tersebut memiliki kesamaan atau
kelipanan bulat frekuensi. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari adanya
resonansi ini. Contohnya dalam pembuatan alat-alat musik, gitar, seruling,
kendang, beduk dan sebagainya. Adanya lubang atau ruang dalam alat-alat musik
tersebut memungkinkan adanya resonansi bunyi pada kolom udara.
Dalam kehidupan sehari-hari resonansi dapat kita
praktikan dalam pergaulan. Jika kita berkawan dengan orang-orang yang
perkepribadian positif. Maka kemungkinan besar kita akan ikut tergetarkan untuk
berkepribadian positif. Demikian juga bila kita bergaul dengan teman-teman yang
rajin beribadah. Maka kita cenderung akan ikut juga rajin beribadah, karena
perilaku dari teman-teman akan sangat berpengaruh kepada diri kita. Maka
Rasulullah sangat menganjurkan agar kita berhati-hati dalam berkawan.
Rasulullah mengingatkan, ”Dan perumpamaan teman yang baik, ibarat
seorang penjual minyak wangi . Kalaupun ia tidak memberikan minyak wanginya,
setidaknya kita mendapatkan aromanya yang semerbak. Sementara perumpamaan teman
yang jahat, tak ubahnya pandai besi.. Kalaupun kita tidak terkana asap
hitamnya, setidaknya kita akan mencium bau busuk dari tungkunya.” Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Adab.
Maksud dari hadits tersebut agar kita berhati-hati
dalam berteman. Pilihlah teman yang akan meresonansikan kebaikan agar kita ikut
pula berbuat kebaikan. Sebaliknya jangan sampai kita berteman dengan
orang-orang yang mendorong kita untuk berbuat kejahatan. Karena lambat laun
kita bisa terpengaruh oleh mereka. Bila memang mampu, jadilah diri kita menjadi
sumber dari resonansi kebaikan itu, agar orang lain pun terinspirasi untuk berbuat kebaikan, dengan
demikian kita bisa memetik pahala kebaikan itu.
“Siapa saja yang meretas jalan kebaikan di dalam
Islam, baginya pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala dari orang-orang
yang mengikuti jejak kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka.
Siapa saja yang meretas jalan keburukan di dalam Islam, baginya dosa atas
perbuatan buruknya itu dan dosa dari orang-orang yang mengikuti jejak
keburukannya itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).
©http://bukanturunankedelapan.com

0 comments:
Post a Comment