Apakah ada kaitannya membaca dengan mengubah nasib?
Anda bisa saja menyangkalnya. Tapi saya berharap tulisan ini akan memberi warna
dalam pandangan Anda.
Bulan Ramadhan tanggal 17, tiga 13 tahun sebelum
Hijrah. Atau sekitar tahun 610 Masehi. Perintah pertama turun kepada Nabi akhir
zaman, Iqra’. Bacalah! Perintah yang tak lazim dan membingungkan. Peristiwa itu
diabadikan dalam surat Al ‘Alaq. Di saat dunia Arab terkungkung dalam kegelapan
budaya di satu sisi. Sementara pada sisi lain mereka sedang berada pada puncak
kehebatan sastra.
Maka kota Makkah pun menjadi gempar, kala seorang
Muhammad yang ummi tiba-tiba datang dengan kalimat-kalimatnya yang begitu
menggetarkan, Al Quran. Sampai-sampai para ahli sastra pun dengan jujur
mengakui keunggulan Al Quran.
Al Mughirah yang mengetahui itu kemudian bertemu
Abu Jahal dan mendiskusikan tentang julukan apa yang akan diberikan kepada
Muhammad. Mulai dari tukang sihir, dukun atau orang yang dianggap gila.
Meskipun mereka kemudian sadar, semua itu tak pantas untuk Muhammad. Mereka pun
akhirnya sepakat mengatakan Muhammad sebagai seorang ahli sihir yang memisahkan
antara orang tua dengan anaknya. Memisahkan antara istri dengan suaminya.
Iqra’... Iqra’... Kita sangat berharap getar suara
Jibril sewaktu menemui Rasulullah di Gua Hira itu tak pernah sirna. Terus
meresapi setiap jiwa kaum Muslim untuk senantiasa membaca kalam Allah yang
termaktub dalam Al Quran maupun yang terhampar di alam semesta. Kita sangat
berharap lantunan perintah Iqra’ itu menjadi amunisi yang siap membangkitkan
semangat kepada seluruh umat untuk tiada henti belajar demi kemanfaatan dunia
dan akhirat.
Ya, kalimat Iqra’ itu semoga tetap menggema
sepanjang masa. Memotivasi untuk terus mereguk kesegaran ilmu. Karena dengannya
hidup menjadi mudah. Mudah untuk dihadapi, mudah untuk dijalani. Dengan ilmu
dunia bisa didapat, akhirat bisa selamat. Setan pun sangat hati-hati menghadapi
orang yang berilmu.
Seperti kata Imam Syafi’i rahimahullah, siapa yang
ingin meraih bahagia dunia mesti dengan ilmu. Siapa yang ingin meraih bahagia
akhirat mesti dengan ilmu.
“Barangsiapa menginginkan dunia, hendaklah dengan
ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu, dan
barangsiapa menghendaki keduanya maka hendaklah dengan ilmu.” (Al Majmu’, Imam
Nawawi)
Membaca akan membuka banyak kemungkinan. Mengayakan
pikir dengan inspirasi. Menutrisi jiwa dengan motivasi. Lihat saja bagaimana tingkat
kesadaran membaca di negara yang maju, mereka begitu gigih. Harusnya itu kita!
©http://bukanturunankedelapan.com

0 comments:
Post a Comment