Monday, March 4, 2013

Mukmin yang Menakjubkan

By guru | At 4:28 AM | Label : | 0 Comments

Semoga Allah memasukan kita ke dalam golongan orang Mukmin. Golongan yang bukan saja mempercayai keberadaan Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Namun juga tunduk dan patuh terhadap aturan yang telah ditetapkan-Nya. Karena rasa percaya akan keberadaan Allah saja belumlah cukup. Iblis sangat percaya kepada Allah karena pernah berdialog, tetapi tetap saja Iblis termasuk golongan kafir sebab dengan lancang telah membantah perintah Allah

Semoga Allah senantiasa menanamkan keimanan ke dalam hati kita. Karena hanya dengan kemurahan-Nya keimanan itu tetap bersemayam. Keimanan yang tidak bisa diwariskan dan tidak pula dapat diperjual-belikan.


Mukmin adalah orang yang beruntung. Setiap urusan dalam hidupnya menjadi hal menakjubkan. Dan bisa menjadi ladang untuk mendulang pahala. Selalu ada kebaikan dalam segala hal yang menimpa. Rasulullah pernah menginformasikan hal ini dalam sabdanya, “Aku mengagumi seorang Mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang Mukmin diberi pahala dalam segala hal walau pun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Allah telah menciptakan semua urusan menurut ukuran yang terbaik. Setiap kejadian yang menimpa manusia memiliki makna dan manfaat. Hanya saja mungkin akal manusia tidak sanggup untuk menjangkaunya. Allah mengetahui apa yang dibutuhkan setiap hamba-Nya meskipun hamba tersebut tidak menyukainya.

Terkadang seorang hamba menginginkan sesuatu yang itu buruk untuk dirinya. Dan dia kecewa saat keinginan itu tidak terkabulkan. Padahal bila dikabulkan bisa jadi justru membawa kemudharatan.

Kisah Nabi Musa dan Qarun layaknya menjadi pelajaran. Suatu saat Qarun meminta kepada Nabi Musa untuk mendoakan dirinya kepada Allah agar diberi kekayaan. Nabi Musa menasihatkan bahawa apa yang dimiliki Qarun saat itu adalah lebih baik baginya. Tetapi Qarun tidak juga mau mengerti. Akhirnya Nabi Musa mendoakan Qarun dan doa itu pun terkabul. Qarun menjadi orang yang kaya raya. Tapi sungguh malang sebab semakin bertumpuk kekayaan, Qarun semakin jauh dari Allah. Puncaknya Qarun menyombongkan diri dan mengingkari nikmat Allah, “Karun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’” (Al Qashash [28]: 78)

Dan kekufuran Qarun itu pun berakhir tragis saat Allah menurunkan azab-Nya. Qarun dibenamkan ke dalam tanah beserta seluruh harta kekayaannya.

Maka seorang Mukmin adalah mereka yang mampu memanfaatkan setiap kejadian dalam hidupnya menjadi jalan meraih kebaikan. Menerima apa yang telah ditetapkan Allah dengan hati yang ridha dan jiwa yang tegar. Karena akan ada selalu kebaikan di balik setiap kejadian. Jika ditimpa kegagalan dan kesedihan maka kesabaran adalah jalan menuju pertolongan-Nya. sabar dan shalat adalah sarana meraih pertolongan-Nya. Jika kenikmatan terhampar di hadapan, maka kesyukuran akan mengundang nikmat-nikmat selanjutnya. Barangsiapa bersyukur, Allah akan menambahkan nikmat-Nya.

Sungguh urusan Mukmin adalah menakjubkan!

Luar Biasanya Potensi Manusia

By guru | At 4:09 AM | Label : | 0 Comments


Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dianugerahi potensi yang tidak dimiliki makhluk lain. Malaikat sekalipun! Potensi itu beruapa:
§  Rasio/Pikiran
Rasio berbeda dengan akal. Rasio lebih mendasarkan pada kenyataan yang dapat ditangkap dengan indera. Misalnya kekuasaan Allah yang ada di alam ini. Rasio diperlukan manusia agar dapat mengenal Allag melalui tanda-tanda kekuasaanNya.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah), bagi kaum yang memikirkan.” (Ar Ra’d [13] ayat 3)

§  Akal (Al Aqlu)
Akal merupakan perpaduan antara unsur rasio dengan hati. Meskipun manusia mengetahui kekuasaan Allah yang ada di alam ini tetapi banyak di antara mereka yang tetap ingkar karena hatinya tidak berfungsi. Padahal akal dibutuhkan untuk memahami Al Quran.
“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasannya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Ibrahim [14]: 52)

§  Hati/Al Qalbu
Hati berfungsi untuk membedakan perbuatan yang baik dan buruk sebelum anggota badan melakukannya. Sifatnya selalu berubah, kadang beriman kadang berpaling. Maka hati harus selalu dijaga. Dibersihkan dari kotoran dan penyakit yang bisa merusak hati.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d [13] ayat 28)

§  Nafsu
Ini yang membedakan manusia dengan malaikat. Ini yang membuat kehidupan menjadi dinamis. Ya, manusia memiliki nafsu yang mendorong manusia punya keinginan-keinginan. Tetapi nafsu bagai pisau bermata dua, dapat menuntun kepada kebaikan atau sebaliknya. Maka nafsu harus ditata, diredam, dan diarahkan.
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Yusuf [12]: 53)

Dengan segala potensi itulah, manusia dipercaya menjadi khalifah di muka bumi. Diberi amanat yang teramat berat. Amanat yang gunung saja tidak mampu menanggungnya!

Sunday, March 3, 2013

Keajaiban di Balik Perintah Iqra’

By guru | At 9:14 PM | Label : | 0 Comments


Apakah ada kaitannya membaca dengan mengubah nasib? Anda bisa saja menyangkalnya. Tapi saya berharap tulisan ini akan memberi warna dalam pandangan Anda.

Bulan Ramadhan tanggal 17, tiga 13 tahun sebelum Hijrah. Atau sekitar tahun 610 Masehi. Perintah pertama turun kepada Nabi akhir zaman, Iqra’. Bacalah! Perintah yang tak lazim dan membingungkan. Peristiwa itu diabadikan dalam surat Al ‘Alaq. Di saat dunia Arab terkungkung dalam kegelapan budaya di satu sisi. Sementara pada sisi lain mereka sedang berada pada puncak kehebatan sastra.

Maka kota Makkah pun menjadi gempar, kala seorang Muhammad yang ummi tiba-tiba datang dengan kalimat-kalimatnya yang begitu menggetarkan, Al Quran. Sampai-sampai para ahli sastra pun dengan jujur mengakui keunggulan Al Quran.

Al Mughirah yang mengetahui itu kemudian bertemu Abu Jahal dan mendiskusikan tentang julukan apa yang akan diberikan kepada Muhammad. Mulai dari tukang sihir, dukun atau orang yang dianggap gila. Meskipun mereka kemudian sadar, semua itu tak pantas untuk Muhammad. Mereka pun akhirnya sepakat mengatakan Muhammad sebagai seorang ahli sihir yang memisahkan antara orang tua dengan anaknya. Memisahkan antara istri dengan suaminya.

Iqra’... Iqra’... Kita sangat berharap getar suara Jibril sewaktu menemui Rasulullah di Gua Hira itu tak pernah sirna. Terus meresapi setiap jiwa kaum Muslim untuk senantiasa membaca kalam Allah yang termaktub dalam Al Quran maupun yang terhampar di alam semesta. Kita sangat berharap lantunan perintah Iqra’ itu menjadi amunisi yang siap membangkitkan semangat kepada seluruh umat untuk tiada henti belajar demi kemanfaatan dunia dan akhirat.

Ya, kalimat Iqra’ itu semoga tetap menggema sepanjang masa. Memotivasi untuk terus mereguk kesegaran ilmu. Karena dengannya hidup menjadi mudah. Mudah untuk dihadapi, mudah untuk dijalani. Dengan ilmu dunia bisa didapat, akhirat bisa selamat. Setan pun sangat hati-hati menghadapi orang yang berilmu.

Seperti kata Imam Syafi’i rahimahullah, siapa yang ingin meraih bahagia dunia mesti dengan ilmu. Siapa yang ingin meraih bahagia akhirat mesti dengan ilmu.
“Barangsiapa menginginkan dunia, hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya maka hendaklah dengan ilmu.” (Al Majmu’, Imam Nawawi)

Membaca akan membuka banyak kemungkinan. Mengayakan pikir dengan inspirasi. Menutrisi jiwa dengan motivasi. Lihat saja bagaimana tingkat kesadaran membaca di negara yang maju, mereka begitu gigih. Harusnya itu kita!

©http://bukanturunankedelapan.com

Kisah Kasih Sepanjang Galah

By guru | At 8:39 PM | Label : , | 0 Comments
Jika kau patuh pada kekasihmu
Lebih patuhlah pada ibumu
- Rhoma Irama -

Pepatah mengatakan, “Kasih Anak Sepanjang Galah, Kasih Ibu Sepanjang Masa”. Kasih sayang anak kepada orang tua sepanjang galah yang bisa diukur, sedang kasih sayang orang tua tak pernah ada habisnya.

Islam memberikan tuntunan yang jelas tentang berbakti kepada orang tua, terutama ibu, ibu, ibu kemudian ayah. Untuk note kali ini, saya kutipkan beberapa hadits dan riwayat berkaitan dengan hal tersebut.


Berbakti kepada orang tua termasuk amal yang paling dicintai Allah,
Dalam hadits lain disebutkan, Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah?” Rasulullah SAWmenjawab: “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya kembali “Kemudian apa lagi? :”Berbaktilah pada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?” Rasulullah SAWmenjawab: “Berjihadlah di jalan Allah”. (HR. Imam Bukhari)

Cara berbakti banyak ragamnya, di antaranya dengan mengasihi dan merawat mereka ketika masih hidup, mendoakan ketika telah meninggal. Bisa juga dengan menyambungkan silaturahim dengan keluarga dan sahabatnya.

Pahala berbakti tidak terputus dengan matinya kedua Orangtua. Dalam suatu hadits dikatakan, “Tatkala kami sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah. Lelaki itu bertanya:”Wahai Rasulullah, apakah baktiku terhadap kedua orang tuaku masih tetap ada (pahalanya), jika kulakukan sesuatu sebagai baktiku terhadap mereka berdua sesudah mereka tiada?”. Rasulullah menjawab:”Ya, masih ada, yaitu mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan pesan-pesannya, dan mengadakan silaturahim kepada orang-orang yang selalu dihubungi oleh kedua orang tuanya, serta memuliakan kawan-kawan dekat mereka. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah ‘Umar RA kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: “Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya?”. Khalifah ‘Umar RA menjawab: “Tidak”. Lelaki itu kembali bertanya: “Mengapa demikian”. Khalifah ‘Umar RA menjawab: “Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau mengurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.

Demikianlah Islam memuliakan kedudukan orangtua di hadapan anaknya. ‘Abdullah Ibnu Umar telah menceritakan suatu riwayat bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Keridhaan Rabb terletak pada keridhaan kedua orangtua, dan kemurkaan Rabb terletak pada kemurkaan kedua orangtua”. (HR. Turmudzi).

Mari belajar untuk terus berbakti kepada orang tua.

©http://bukanturunankedelapan.com

Falsafah Telur

By guru | At 7:24 PM | Label : | 0 Comments


Kebaikan bisa saja lahir dari keterpaksaan, meskipun akan lebih terasa nyaman jika kebaikan itu hadir bersama kesadaran. Dari sebutir telur kita bisa mengambil falsafah untuk menerjemahkan penggal kalimat di atas.

Di dalam telur tersimpan benih kehidupan, maka ia dilindungi cangkang yang keras. Jika sedikit saja cangkang retak atau pecah yang disebabkan faktor dari luar, akan membuat telur gagal menetas. Tidak ada kehidupan yang muncul. Sebaliknya jika cangkang itu pecah karena faktor dari dalam, karena memang waktunya menetas, akan melahirkan satu makhluk hidup baru yang siap berkembang.

Sobat, begitu juga dengan diri kita. Jika nilai-nilai kebaikan universal seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, cinta kebersihan dan lainnya kita lakukan karena keterpaksaan atau rasa takut dari pihak luar. Dari guru atau orang tua, misalnya. Maka kebaikan-kebaikan itu akan terasa berat untuk dilakukan, dan mudah terhenti bila tidak ada lagi kontrol dari orang lain. Tidak memberi kesan dalam diri.

Berbeda jika kebaikan itu lahir dari kesadaran diri. Mengingat manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh. Besar kemungkinan, kebiasaan baik itu akan tetap terjaga secara konsisten. Akan melahirkan ‘kehidupan baru’ yang semakin mendekatkan diri kita kepada kesuksesan.

“Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Asy Syuura [42]: 23)

Memunculkan kesadaran dari dalam diri untuk melakukan kebaikan memang tidak mudah. Butuh ilmu, keyakinan dan ikhtiar secara terus-menerus. Ilmu yang membuat seorang tahu kemanfaatan dari amal yang dilakukan. Keyakinan akan membentuk jiwa yang percaya kepada diri sendiri. Tidak mudah tergerus oleh pergaulan yang mengajak kepada kerusakan. Sedang ikhtiar yang konsisten akan mengubah kebiasaan menjadi akhlak. Sebab memang ada kalanya pembentukan akhlak harus dipaksa.

Hari ini kita telah belajar falsafah dari sebutir telur. Semoga membukakan hati kita untuk lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan yang lahir dari kesadaran diri. Allah telah berjanji, setiap kebaikan, akan dibalas dengan kebaikan.
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahmaan [55]: 60)

©http://bukanturunankedelapan.com

Majelis Dosa

By guru | At 7:12 PM | Label : | 0 Comments


Saat nilai-nilai Islam sebatas menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam pengajian dan khutbah-khutbah tanpa langkah nyata mewujudkannya. Saat ayat-ayat Alquran sekedar menjadi bacaan di masjid-masjid atau surau tanpa pernah diamalkan. Maka selama itu suara kebenaran akan semakin terkikis oleh gemuruh hedonisme, kapitalisme, liberalisme dengan mengusung budaya-budaya yang tidak sejalan dengan Islam. Majelis-majelis dosa semakin merebak. Kemaksiatan pun semakin tampak. Kemudian hanya orang-orang berimanlah yang tetap teguh mengenggam kebenaran, layaknya menggenggam bara api. Mampukah kita?

Suatu ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz menghukum dera orang yang minum khamr dan orang yang menghadiri majelis tersebut, meskipun tidak turut minum. Sejumlah orang yang minum khamr diperintahkan agar mereka dihukum dera. Lalu ada yang berkata, ‘Di antara mereka ada orang yang berpuasa.’ Lalu Khalifah menjawab, ‘Dahulukan dia! Apakah kamu tidak mendengar firman Allah:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Alquran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (An-Nisaa’ [4]: 140)

Seorang Muslim diperintahkan mencegah kemunkaran apabila dia melihatnya. Bisa dengan tindakan, lisan atau dengan hati sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kemudian diperintahkan untuk menjaga diri, keluarga dan masyarakat agar tidak terkena dampak kemunkaran itu. Menjauhi tempat-tempat yang menjadi pusat kemaksiatan karena yang demikian bisa menyeret seseorang untuk turut serta berbuat maksiat. Nabi pernah bersabda, artinya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia duduk pada majelis yang diedarkan khamr padanya.” (HR. Ahmad).

Sinyalemen untuk menjauhi majelis-majelis dosa yang disampaikan Nabi itu tentu tidak terbatas pada tempat yang dihidangkan khamr. Tetapi juga segala bentuk perkumpulan atau pertemuan yang mendatangkan maksiat dan dosa. Ada pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah di sana. Dan itu bisa terjadi di mana saja. Orang-orang yang terus larut di dalamnya tanpa berusaha mencegah atau pun berusaha meninggalkan mejelis semacam itu, dikatakan oleh Allah ‘serupa’ dengan yang mengerjakan dosa.

Sebagai contoh, hampir setiap saat televisi menyajikan gosip-gosip dari dunia selebritis dan menjadi favorit untuk ditonton, padahal telah jelas itu termasuk ghibah. Dalam ghibah yang mengucapkan atau mendengar sama-sama mendapat dosa, ‘Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?’ (Al-Hujurat [49]: 12).

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar adanya praktik suap menyuap yang bahkan dikatakan lazim dalam upaya mencari pekerjaan dan semacamnya. Jelas-jelas Allah telah melarangnya. Kemudian pratik riba dengan melibatkan pemilik modal, peminjam, saksi-saksi dan pencatat, semuanya terkena dosa. Praktek korupsi, kolusi dan nipotisme yang juga dilakukan secara kolektif. Majelis-majelis semacam itu sangat mengancam iman kita. Maka sewajarnya kita harus berhati-hati, agar terhindar dari yang demikian. Muhasabah dan waspada, jangan-jangan kita tengah berada di tengah-tengah majelis dosa?!

©http://bukanturunankedelapan.com

Resonansi Kebaikan

By guru | At 6:54 PM | Label : | 0 Comments

Dalam fisika dikenal istilah resonansi, yakni bergetarnya suatu benda akibat getaran benda lain dengan frekuensi yang sama atau kelipatan bulat dari frekuensi itu. Sehingga untuk menggetarkan suatu benda kita tidak harus menyentuhnya secara langsung, melainkan dengan menggetarkan benda lain. Dengan demikian kita bisa menggetarkan beberapa benda sekaligus dalam satu tempo apabila benda-benda tersebut memiliki kesamaan atau kelipanan bulat frekuensi. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari adanya resonansi ini. Contohnya dalam pembuatan alat-alat musik, gitar, seruling, kendang, beduk dan sebagainya. Adanya lubang atau ruang dalam alat-alat musik tersebut memungkinkan adanya resonansi bunyi pada kolom udara.

Dalam kehidupan sehari-hari resonansi dapat kita praktikan dalam pergaulan. Jika kita berkawan dengan orang-orang yang perkepribadian positif. Maka kemungkinan besar kita akan ikut tergetarkan untuk berkepribadian positif. Demikian juga bila kita bergaul dengan teman-teman yang rajin beribadah. Maka kita cenderung akan ikut juga rajin beribadah, karena perilaku dari teman-teman akan sangat berpengaruh kepada diri kita. Maka Rasulullah sangat menganjurkan agar kita berhati-hati dalam berkawan.

Rasulullah mengingatkan,  ”Dan perumpamaan teman yang baik, ibarat seorang penjual minyak wangi . Kalaupun ia tidak memberikan minyak wanginya, setidaknya kita mendapatkan aromanya yang semerbak. Sementara perumpamaan teman yang jahat, tak ubahnya pandai besi.. Kalaupun kita tidak terkana asap hitamnya, setidaknya kita akan mencium bau busuk dari tungkunya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Adab.

Maksud dari hadits tersebut agar kita berhati-hati dalam berteman. Pilihlah teman yang akan meresonansikan kebaikan agar kita ikut pula berbuat kebaikan. Sebaliknya jangan sampai kita berteman dengan orang-orang yang mendorong kita untuk berbuat kejahatan. Karena lambat laun kita bisa terpengaruh oleh mereka. Bila memang mampu, jadilah diri kita menjadi sumber dari resonansi kebaikan itu, agar orang lain pun  terinspirasi untuk berbuat kebaikan, dengan demikian kita bisa memetik pahala kebaikan itu.

“Siapa saja yang meretas jalan kebaikan di dalam Islam, baginya pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala dari orang-orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang meretas jalan keburukan di dalam Islam, baginya dosa atas perbuatan buruknya itu dan dosa dari orang-orang yang mengikuti jejak keburukannya itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).

©http://bukanturunankedelapan.com
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Mengoptimasi Potensi Diri - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz